Banyak dari kita yang percaya bahwa kecerdasan anak tak lepas dari turunan kecerdasan kedua orang tua. Tak heran, ada yang merasa lega saat anak menunjukkan ciri kemampuan belajar yang cepat. Sebaliknya, ada juga yang justru menjadi khawatir saat perkembangannya tak sesuai harapan.
Pada dasarnya, genetika memang punya peran dalam pembentukan kecerdasan anak, tetapi faktor ini bukanlah satu-satunya penentu. Faktanya, genetika menyumbang faktor penentu yang paling kecil. Sementara penentu kecerdasan anak lainnya justru berasal dari faktor lain!
Genetika Orang Tua Hanya Menyumbang Sedikit Persentase Kecerdasan Anak

Secara medis, genetik atau turunan kecerdasan orang tua memang menyumbang peran dalam kecerdasan anak. Namun, genetik bukanlah satu-satunya faktor tunggal. Mengutip The Pennsylvania State University, sebuah studi menemukan bahwa gen dari orang tua hanya memengaruhi sekitar 20-40% saja.
Hal ini juga dibuktikan oleh studi lanjutan di The University of Queensland yang menemukan gen bernama FNBP1L yang memang berkaitan dengan kecerdasan. Nah, ini berarti sisa 60-80% kecerdasan anak terbentuk karena faktor lain. Ini bukti bahwa masa depan anak tidak kaku dan tidak cuma ditentukan oleh DNA.
Dua Tahun Pertama yang Jadi Penentu Perkembangan Otak Anak
Dokter Spesialis Anak, dr. Kanya Ayu, Sp.A., juga membocorkan rahasia penting. Proses pembentukan kecerdasan anak itu butuh waktu dan perjalanan yang panjang, dan masa emasnya (golden age) ada di 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
“Betul bahwa kecerdasan tidak hanya dari genetik. Sejak dari dalam kandungan sampai setidaknya usia 2 tahun (1.000 hari), perkembangan otak anak itu melesat cepat hingga mencapai 80% dari kapasitas otak dewasanya,” ungkap dr. Kanya dalam sebuah talkshow nutrisi keluarga di Jakarta Pusat beberapa waktu lalu.
Artinya, momen sejak Ibu hamil sampai si kecil memasuki tahun kedua adalah masa di mana orang tua bisa “mencetak” kecerdasannya. Caranya bagaimana? dr. Kanya membagikan resep 3A yang wajib seimbang, yakni Asah, Asih, dan Asuh.
- Asah, yakni mencukupi kebutuhan nutrisi. Ini bukan sekadar asal perut kenyang. Otak anak butuh makronutrien (protein), mikronutrien, zat besi, hingga DHA.
- Asih, yakni kebutuhan emosional dan kasih sayang. Ini soal bagaimana orang tua memeluk mereka saat sedih, cara menghadapi tantrum, dan bagaimana mereka menerima cinta di rumah. Anak yang merasa aman dan dicintai, otaknya akan lebih siap menyerap pelajaran.
- Asuh, yakni stimulasi. Menurut dr. Kanya, percuma jika Ibu pintar dan makanannya bergizi tetapi anak hanya didiamkan saja. Otak anak harus kita ajak bekerja. Sesederhana sering mengajak ngobrol bayi yang belum bisa bicara, main cilukba, membacakan dongeng, sampai bermain balok susun.
Lingkungan dan Pola Pikir Orang Tua Membentuk Kecerdasan Anak Setelahnya

Lalu, bagaimana dengan anak-anak yang usianya sudah lewat dari 2 tahun? Nah, studi membuktikan bahwa pengaruh lingkungan dan pola asuh berperan paling besar sampai anak-anak menginjak usia dewasanya.
Anak yang lahir dari orang tua cerdas mungkin memiliki keunggulan, tetapi keunggulan itu sebenarnya bukan murni karena genetika, tetapi karena orang tua yang cerdas tahu bagaimana cara menerapkan pola asuh yang tepat.
Menurut Mei Elansary, Spesialis Anak di Boston Medical Center, kunci sukses mencetak anak pintar ada pada growth mindset (pola pikir yang terus bertumbuh) dari orang tua. “Growth mindset seorang ibu adalah keyakinan bahwa kemampuan itu bisa dikembangkan,” katanya.
Singkatnya, kalau anak gagal, orang tua dengan growth mindset tidak akan melabeli anaknya “kurang pintar”, melainkan memujinya karena “sudah berusaha keras” lalu mengarahkan anak ke cara yang lain. “Dengan begitu, ibu tak akan lelah memfasilitasi anaknya mencoba hal baru dan memperluas potensinya,” jelasnya.
Penutup
Satu lagi yang sering menjebak kita, menganggap anak cerdas itu selalu yang juara kelas. Padahal, MedlinePlus menegaskan bahwa kecerdasan itu sangat luas. Cerdas juga berarti kemampuan anak untuk merencanakan sesuatu, memecahkan masalah, beradaptasi di lingkungan baru, dan kemampuan berpikir logis.
Jadi, kecerdasan anak memang bisa mewarisi genetika dari orang tua, tapi porsinya sangat kecil. Porsi yang paling besar ada di tangan Ibu dan Ayah lewat asupan bergizi, curahan kasih sayang, dan stimulasi tiada henti setiap harinya.
Kita juga bisa mendukung aktivitas belajar anak dengan Syifa Kids Nervita. Terbuat dari Centella asiatica, Zingiber officinale, Curcuma xanthorrhiza, dan Cinnamomum burmanii, Syifa Kids Nervita efektif untuk meningkatkan daya ingat, konsentrasi, dan kemampuan belajar anak.
