Ibu pasti sering dengar berita soal kualitas udara yang makin memburuk, kan? Sedihnya, polusi ini langsung berdampak ke kesehatan orang rumah, tak heran kalau si kecil, suami, atau bahkan Ibu sendiri jadi gampang batuk dan rasanya susah banget sembuh.
Kadang kita suka meremehkan, mengira ini cuma flu biasa yang cukup diobati pakai obat warung. Padahal, salah mengenali penyebab batuk bisa bikin penanganannya terlambat. Nah, jangan sampai kita membiarkannya, ya. Untuk itu, mari kita kenali batuk karena polusi dan bedanya dengan flu biasa!
Perbedaan Batuk karena Polusi dan Flu Biasa
Menurut Dr. dr. Sukamto Koesnoe, Sp.PD-KAI, FINASIM, seorang spesialis alergi dan imunologi, cara paling gampang membedakan keduanya ialah dengan mengecek suhu dan warna dahaknya. Nah, bagaimana penjelasannya?
1. Cek Suhunya, Apakah Demam?

Coba Ibu perhatikan dengan seksama, kalau batuknya karena flu, efeknya pasti akan terasa ke seluruh tubuh. Selain batuk, biasanya ada demam (di atas 37-38 derajat Celsius), badan jadi gampang lemas, dan pegal-pegal.
Beda lagi kalau batuknya karena polusi, Bu. Biasanya yang ini tidak menyebabkan demam. Polusi kotor biasanya hanya bikin iritasi di saluran pernapasan. Jadi, biarpun badannya tidak panas, tenggorokan rasanya gatal dan batuknya tak berhenti-berhenti.
2. Perhatikan Warna Dahaknya
Coba Ibu perhatikan juga dahaknya. Kalau flu biasa, batuknya cenderung kering dan dahaknya bening. Nah, Ibu perlu hati-hati kalau dahaknya berubah jadi keruh atau hijau. Itu pertanda kalau tubuhnya sedang melawan kotoran dari polusi yang bikin iritasi.
“Kalau sudah lebih dari 10 hari, demam, pilek, dan batuk tidak kunjung membaik, itu pasti bukan flu biasa. Flu itu masa inkubasinya cepat dan harusnya membaik dalam waktu tersebut. Kalau dibiarkan, efek polusi ini bisa bikin komplikasi yang jauh lebih berat,” jelas dr. Sukamto.
Kenapa Polusi Udara Menyebabkan Batuk?

Kita mungkin bingung, kenapa udara kotor bisa bikin batuk parah? Kata ahli paru, Dr. Neetu Jain, debu polusi itu partikelnya sangat kecil (PM 2.5). Karena ukurannya itu, debunya bisa dengan mudah menerobos masuk ke saluran pernapasan kita.
Coba bayangkan partikel sekecil itu masuk ke tenggorokan. Tubuh pasti kaget dan refleks bereaksi. Otak kita secara sigap memberi sinyal untuk menyingkirkan kotoran itu dengan cara mendorong udara kuat-kuat dari dada. Reaksi membuang kotoran inilah yang memicu batuk-batuk.
Tips Mencegah dan Mengatasi Gejala Batuk
Karena penyebabnya beda, penanganannya tentu juga tidak sama ya. Mengandalkan obat flu biasa tak akan banyak membantu meredakan batuk polusi. Nah, lindungi anak dan keluarga di rumah dengan langkah-langkah berikut!
- Pastikan keluarga selalu pakai masker (terutama yang bisa menyaring partikel kecil) kalau harus keluar rumah saat kualitas udara lagi jelek.
- Kalau memungkinkan, tutup jendela saat polusi tinggi dan gunakan air purifier untuk membersihkan udara di ruang keluarga dan kamar tidur.
- Rajin-rajin berikan air putih hangat untuk melegakan tenggorokan yang teriritasi.
- Kalau batuk keluarga sudah lewat dari seminggu, dahaknya berubah warna, atau mulai terasa sesak napas, langsung bawa ke fasilitas kesehatan.
Alternatif lainnya, kita juga bisa memberi anak Syifa Kids Fluba. Terbuat dari temulawak, kencur, kayu manis, dan daun senggugu yang diformulasikan secara tepat oleh ahli farmasi berpengalaman. Obat batuk herbal ini efektif sebagai anti-bakteri, penguat imunitas, peluruh lendir, hingga penangkal radikal bebas.
