Ibu, pernahkah merasa cemas ketika anak mudah lupa? Lupa meletakkan pensil warnanya, lupa tugas sekolahnya, atau bahkan lupa pesan dari orang tuanya? Wajar bagi kita, sebagai orang tua khawatir. Namun, lupa itu sebenarnya hal yang normal, tidak hanya bagi kita orang dewasa, tapi juga bagi anak-anak.
Namun, ada kalanya lupa bisa menjadi tanda sesuatu yang lain. Lalu, bagaimana kita tahu bedanya antara lupa yang normal dan lupa yang perlu kita waspadai? Mari kita bedah ciri-ciri lupa yang normal dan tidak normal, satu persatu pada artikel ini.
Ciri-Ciri Anak Mudah Lupa yang Normal
Seperti melansir dari situs ternama, Health Harvard, ada beberapa jenis lupa yang sangat umum dan normal terjadi pada anak. Ibu tidak perlu terlalu khawatir jika anak mengalami hal ini. Lantas, apa saja ciri-ciri lupa yang normal tersebut?
1. Transient
Pasti sering kan, si kecil tiba-tiba lupa kejadian yang baru saja ia alami atau informasi yang baru saja ia pelajari? Hal ini wajar. Otak punya mekanisme unik yang sengaja membersihkan memori yang tidak terpakai. Ini biasa terjadi secara alami, dan hampir pada semua orang.
Lantas, apa tujuan otak membersihkan memori? Agar otak bisa memberi ruang bagi memori baru yang lebih penting dan berguna. Anggap saja layaknya kita yang sering merapikan lemari, membuang baju yang sudah tidak terpakai agar ada tempat untuk baju baru.
2. Absent-Mindedness

Bu, pernahkah melihat si kecil lupa di mana ia meletakkan mainannya, padahal baru beberapa menit yang lalu dimainkan? Hal ini bisa jadi karena saat itu ia tidak fokus. Mungkin pikirannya sedang melayang memikirkan hal lain, entah memikirkan makanan kesukaannya atau rencana bermain nanti sore.
Kurangnya fokus, karena tidak ada perhatian penuh, otak jadi tidak bisa menyimpan informasi tersebut dengan baik. Jadi, saat ia mencoba mengingatnya lagi, otaknya tidak bisa memberikan jawaban yang ia butuhkan. Tentu saja, ini cukup normal dan biasa terjadi ke semua orang, ya.
3. Blocking
Permisalannya, ketika si kecil pulang sekolah dan berkata, “Bunda, Bu Guru bilang ada pesan penting, tapi aku lupa pesannya apa.” Nah, ini disebut blocking. Memori itu sebenarnya ada dan pernah ia rekam dalam benaknya, tetapi otak sulit menariknya keluar.
Biasanya, kondisi ini hanya sementara. Kalau kita memberinya sedikit petunjuk, misalnya, “Apakah tentang PR?”, memori itu akan langsung muncul lagi. Selama si kecil bisa mengingatnya kembali dengan bantuan kecil, hal ini masih normal dan tak perlu kita khawatirkan.
4. Misattribution
Jenis lupa ini terjadi ketika si anak mengingat suatu kejadian secara akurat, tetapi ada detail yang keliru. Misalnya saja, saat ia ingat pergi ke kebun binatang, tapi ia salah menyebutkan siapa saja yang ikut. Atau, ia menceritakan sesuatu yang ia yakini benar-benar terjadi, padahal itu hanya berasal dari imajinasinya.
Hal ini sangat wajar karena imajinasi anak memang sangat aktif dan kadang sulit dibedakan dari realitas. Jadi, jika si kecil terkadang mencampur antara kejadian nyata dengan fantasi, hal ini masih dalam batas normal dalam perkembangan kognitifnya.
Ciri-Ciri Lupa yang Tidak Normal
Selain lupa yang normal, ada ciri-ciri anak mudah lupa yang tidak normal. Ibu, jika menemukan anak sering lupa, disertai dengan beberapa perilaku ini, sebaiknya lebih waspada. Ini bisa menjadi lampu kuning dan perlu kita perhatikan lebih serius. Apa saja?
- Jeda yang sangat lama saat mencoba mengingat atau memilih kata.
- Mengulangi percakapan atau pertanyaan yang sama berulang-ulang, meskipun baru saja dijawab.
- Perubahan drastis pada suasana hati dan kepribadiannya.
- Tidak bisa fokus menyelesaikan tugas yang diberikan, seperti PR atau pekerjaan rumah tangga sederhana.
- Sulit mengikuti perintah, bahkan setelah kita mengulanginya.
- Mengalami kesulitan untuk mencatat tugas yang diberikan di sekolah.
Penyebab Anak Mudah Lupa

Lupa pada anak bisa disebabkan oleh beberapa hal, yang mungkin tidak kita sadari. Yang pertama, menurut penelitian, kurang tidur bisa membuat otak sulit memproses dan menyimpan memori baru. Otak membutuhkan waktu istirahat yang cukup untuk mengatur semua informasi yang ia terima sepanjang hari.
Selain kurang tidur, otak juga membutuhkan nutrisi yang cukup untuk bekerja dengan optimal. Kekurangan gizi, terutama vitamin B12 yang biasanya ada di produk susu, ikan, dan daging, bisa memengaruhi daya ingat anak.
Penyebab anak mudah lupa lainnya adalah stres. Tumpukan tugas sekolah, tuntutan yang terlalu tinggi dari orang tua, atau masalah dengan teman bisa membuat anak stres. Stres bisa membuat mereka sulit fokus, berpikir jernih, dan menyerap informasi baru.
Selain kurang tidur, kurang gizi, dan stres, anak juga bisa menjadi pelupa karena efek samping obat dan penyakit tertentu. Misalnya, penyakit ADHD bisa membuat anak kesulitan untuk mempertahankan fokus. Begitu juga konsumsi obat-obatan penenang, ia bisa mengganggu daya ingat anak.
Tips Meningkatkan Daya Ingat Anak
Sejatinya, lupa adalah bagian dari tumbuh kembang anak. Karena itu, dengan pemahaman dan dukungan yang tepat, kita tetap bisa membantu si kecil melewati fase ini dengan lebih baik. Ada beberapa tips bagi orang tua dalam meningkatkan daya ingat anak. Apa saja?
- Biasakan si kecil tidur dan bangun teratur di jam yang sama setiap hari.
- Ajak ia bermain puzzle, catur, atau permainan lain yang mengasah otak. Membaca buku bersama juga sangat efektif.
- Berikan instruksi satu per satu. Contohnya, daripada bilang, “Tolong bereskan mainan, mandi, dan sikat gigi,” lebih baik bilang, “Sekarang, bereskan mainanmu dulu ya.” Setelah selesai, baru berikan instruksi selanjutnya.
- Perbanyak makanan yang kaya omega-3 seperti ikan salmon, serta buah dan sayuran yang kaya antioksidan.
Selain beberapa tips memperkuat daya ingat anak di atas, kita bisa mendukung aktivitas belajar anak dengan Syifa Kids Nervita. Terbuat dari Centella asiatica, Zingiber officinale, Curcuma xanthorrhiza, dan Cinnamomum burmanii, Syifa Kids Nervita efektif untuk meningkatkan daya ingat dan konsentrasi anak.
