Meski banyak orang tua yang mulai mengenalkan bacaan sejak dini (4-5 tahun), sebenarnya pendidikan formal membaca biasanya baru dimulai saat anak masuk Sekolah Dasar (SD). SD adalah tahapan awal belajar membaca yang pas. Lantas, bagaimana cara mudah mengajarkannya?
Setiap anak punya waktunya sendiri untuk mekar. Nah, supaya orang tua bisa mendampingi mereka dengan tepat tanpa rasa frustrasi, kita perlu mengeenali tahapannya dalam belajar membaca. Terkadang, kemampuan membaca anak juga perlu kita latih, meski telah mendapatkan pelajaran di sekolah.
Ketahui Dulu Tahapan Belajar Membaca yang Tepat
Ibu, kemampuan membaca anak itu ibarat menaiki tangga. Ada tingkatannya. Materi yang dipelajari anak kelas 1 SD tentu beda jauh dengan kakaknya yang sudah kelas 5. Supaya ekspektasi kita sesuai dengan realita di lapangan, ada baiknya simak pembagiannya berikut ini.
1. Fase Belajar Membaca

Usia 6-10 tahun secara formal adalah fase untuk belajar membaca. Ini adalah masa-masa emas di mana si kecil baru berkenalan dengan dunia literasi di sekolahnya. Di rentang usia ini (kelas 1-4 SD), fokus utamanya adalah mengenal huruf, koleksi kata, bercerita, dan melatih kemandirian.
Di usia ini, mereka mulai paham kalau huruf B dan U jika digabung bunyinya jadi BU. Targetnya, mereka bisa mengenali sekitar 100 kosakata umum yang sering muncul sehari-hari. Bisa kita bilang, fokus di usia ini adalah untuk melatih kemampuan baca terlebih dulu.
Tidak cuma mengeja saja, di usia ini, seharusnya mereka mulai paham isi cerita. Jadi, kalau kita tanya soal jalannya cerita buku, mereka bisa menjawab dengan antusias. Selain itu, biasanya di usia ini, mereka sudah mulai pede membaca buku ceritanya sendiri tanpa perlu kita dikte.
2. Fase Membaca untuk Belajar

Bu, usia 11-12 tahun, saat masuk kelas 5 atau 6 SD, levelnya sudah naik. Mereka bukan lagi belajar cara membaca, tapi membaca untuk belajar. Di tahap ini, fokusnya adalah mengeksplorasi minatnya, melatih berpikir kritis, dan bacaan-bacaan yang lebih kompleks.
Tak seperti usia 6-10 tahun, di usia ini, mereka membaca untuk mencari tahu hobi mereka atau materi pelajaran sekolah. Pemahaman mereka akan lebih dalam, bukan sekadar tahu jalan ceritanya saja, tapi juga pesan moralnya. Mereka juga mulai bisa membaca novel remaja, koran, majalah, hingga artikel pengetahuan umum.
Trik Mengajari Membaca, Pilih Buku yang Tepat sesuai Tahapan

Ibu, buku adalah senjata utama kita dalam mengajari anak membaca. Namun, memilih buku juga ada seninya. Setelah paham tahapan belajar membaca tadi, menurut Kids Health, ada strategi jitu yang bisa kita terapkan, yakni Metode Dua Jenis Buku. Apa itu?
Yang pertama, adalah buku level mandiri. Ini adalah buku yang isi kosakatanya sudah anak kuasasi. Orang tua, dapat membiarkan mereka membaca buku sendiri untuk membangun rasa percaya diri dan meningkatkan motivasinya karena mereka telah menguasainya.
Yang kedua, adalah buku level tantangan. Pilih buku yang satu tingkat di atas kemampuannya (lebih tebal atau kosakata baru). Bacalah buku ini bersama-sama. Di sini peran orang tua sangat penting untuk menjelaskan kata-kata sulit atau alur cerita yang rumit.
Mengutip dari Hello Sehat, pemisahan buku bacaan ke dalam dua jenis ini ialah untuk membantunya meningkatkan kemampuan membaca. Anak dapat secara mandiri membaca beberapa judul buku yang memang sudah pernah mereka baca bersama atau kita bacakan.
Tips lainnya, sesuaikan bacaan dengan hobi si kecil! Kalau dia suka sepak bola, belikan buku biografi pemain bola atau komik olahraga. Kalau dia suka dinosaurus, cari buku ensiklopedia hewan purba yang penuh gambar. Jangan paksakan genre, seiring bertambahnya usia, ketertarikan mereka akan berkembang sendiri.
Kenapa Orang Tua Perlu Mendampingi Belajar Membaca Anak?
“Kan sudah sekolah, kenapa harus diajari di rumah lagi?” Nah, jangan salah. Sekolah mengajarkan teknisnya, tapi rumah akan membangun kebiasaannya. Berikut alasan kenapa kehadiran orang tua di samping mereka itu krusial untuk mengembangkan kemampuan bacanya.
- Kebiasaan bisa membangun rasa suka, bukan sekadar bisa saja. Kalau membaca dijadikan rutinitas seru seperti halnya jadwal makan camilan sore hari, anak akan menganggap membaca itu kebutuhan, bukan beban. Kehadiran orang tua bikin suasana jadi hangat dan menyenangkan.
- Membaca bisa jadi detoks digital. Membaca adalah pengalihan isu terbaik! Saat anak tenggelam dalam buku cerita yang seru, otomatis durasi screen time mereka berkurang. Kalaupun harus main gadget, arahkan ke game edukasi yang nyambung dengan buku bacaannya.
- Saat membaca bersama, akan muncul obrolan-obrolan seru. Orang tua bisa menanyakan pendapatnya tentang tokoh cerita. Ini melatih mereka beropini sekaligus mempererat hubungan batin antara orang tua dan anak. Seru, kan?
Selain itu, orang tua juga bisa mendukung aktivitas belajar anak dengan Syifa Kids Nervita. Terbuat dari Centella asiatica, Zingiber officinale, Curcuma xanthorrhiza, dan Cinnamomum burmanii, Syifa Kids Nervita efektif untuk meningkatkan daya ingat, konsentrasi, dan kemampuan belajar anak.
