IDAI Jelaskan Bahaya Paparan Asap Karhutla ke Paru-Paru Anak

IDAI Jelaskan Bahaya Paparan Asap Karhutla ke Paru-Paru Anak

Belakangan ini, berita tentang kebakaran hutan dan lahan di beberapa wilayah Indonesia kembali ramai. Kalau sudah dengar berita ini, pasti hati kita sebagai orang tua langsung waswas, terutama memikirkan bahaya asap karhutla terhadap anak.

Kekhawatiran Ibu ini sangat beralasan. Nah, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), baru-baru ini secara khusus mengingatkan kita semua betapa pentingnya melindungi anak-anak dari paparan asap karhutla. Faktanya, paru-paru anak-anak memang lebih rentan terkena dampaknya.

Asap Karhutla Bukanlah Asap Polusi Biasa

Bahaya Asap Karhutla

Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi IDAI, dr. Fifi Sofiah, Sp.A., Subsp. Respi(K), menjelaskan bahwa asap karhutla ini sangat kompleks dan berbahaya. Asap ini mengandung campuran gas, cairan, dan partikel padat hasil pembakaran yang tidak sempurna.

Di dalamnya ada karbon dioksida, sulfur, hingga logam berat seperti timbal, zink, dan silika. Yang paling ngeri adalah partikel bernama PM2.5. Ukurannya sangat, amat kecil, kurang dari 2,5 mikron. Ukuran ini bahkan jauh lebih tipis dari sehelai rambut!

Ukurannya yang sangat kecil memungkinkan partikel tersebut menembus hingga bagian terdalam paru-paru, yakni alveoli, bahkan berpotensi masuk ke aliran darah. Jika partikel PM10 bisa mengiritasi saluran napas atas, PM2.5 bisa menembus lebih dalam dan memicu gangguan di saluran pernapasan bawah.

Anak-Anak Lebih Rentan Terkena Efek Bahaya Asap Karhutla

Menurut dr. Fifi, sistem pernapasan anak sangat rentan terhadap polusi karena masih dalam tahap perkembangan. Selain itu, kandungan aldehida di dalam asap dapat merusak fungsi silia (rambut halus) yang bertugas menyaring partikel asing di saluran pernapasan.

Di sisi lain, bahaya gas karbon monoksida pada asap karhutla bisa menghambat kemampuan darah dalam mengangkut oksigen, dan paparan polutan secara keseluruhan bisa memicu kerusakan sel tubuh.

Jika terus-menerus terhirup, asap karhutla dapat menyebabkan masalah pernapasan yang berkepanjangan (kronis). Dampaknya tidak sepele, karena bisa mengganggu kesehatan dan kualitas hidup anak hingga saat ia tumbuh dewasa nanti.

Selain itu, diameter saluran pernapasan anak lebih kecil dan frekuensi napasnya lebih tinggi ketimbang orang dewasa. Anak juga memiliki kebutuhan ventilasi udara per kilogram berat badan yang lebih besar. Hal ini juga jadi alasan ia lebih rentan terpapar, selain karena organnya masih berkembang.

Langkah Jitu Melindungi Anak dari Paparan Polusi Asap

Menggunakan Masker saat Beraktivitas di Luar

Sekretaris Satgas Siaga Bencana IDAI, dr. Dimas Dwi Saputro, Sp.A., Subsp. Respi(K), membagikan beberapa tips yang bisa langsung kita praktikkan di rumah untuk melindungi anak dari paparan bahaya asap karhutla.

  • Kurangi Main di Luar: Tahan dulu, jangan biarkan si kecil bermain di luar rumah kalau udara sedang tidak bagus.
  • Tutup Rapat Pintu & Jendela: Jangan biarkan asap menyelinap masuk. Kalau ada air purifier, nyalakan untuk menjaga kualitas udara.
  • Wajib Masker: Kalau terpaksa harus keluar rumah, pastikan si kecil memakai masker yang sesuai dan pas di wajahnya.
  • Banyak Minum Air Putih: Pastikan hidrasi anak tercukupi agar tenggorokannya tidak kering.
  • Jaga Kebersihan Makanan: Cuci bersih buah dan sayuran sebelum dimakan, karena partikel asap bisa saja menempel di sana.
  • Siapkan Tas Siaga: Untuk Ibu yang berada di area rawan karhutla, selalu siapkan tas darurat dan diskusikan rencana evakuasi bersama keluarga.

Cek Kualitas Udara saat Anak Akan Beraktivitas di Luar

IDAI dan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah punya panduan berdasarkan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) harian. Ibu dapat mengecek angka ISPU ini sedikitnya dua kali sehari lewat aplikasi atau info cuaca sebelum anak keluar rumah.

  • ISPU 1-50 (Baik): Udara aman. Pembelajaran sekolah tatap muka/aktivitas luar berjalan normal.
  • ISPU 51-100 (Sedang): Sekolah tatap muka masih berjalan, tapi aktivitas di luar ruangan (seperti olahraga atau upacara) perlu pembatasan atau pindah ke dalam kelas.
  • ISPU 101-200 (Tidak Sehat): Pembelajaran tatap muka secara terbatas/ketat. Anak-anak dan kelompok rentan diarahkan untuk Belajar dari Rumah (BDR).
  • ISPU 201-300 (Sangat Tidak Sehat): Seluruh peserta didik wajib mengikuti Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).
  • ISPU >300 (Berbahaya): Semua kegiatan sekolah berlangsung secara jarak jauh alias full daring.

“Kesehatan anak adalah prioritas utama. Jangan ragu untuk segera membawa anak ke fasilitas kesehatan terdekat jika muncul gejala sesak napas, batuk berkepanjangan, atau penurunan kesadaran. Pencegahan dan deteksi dini adalah kunci,” ucap dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A.

Ibu juga bisa mendukung daya tahan tubuh dan imun anak dengan memberikannya Syifa Kids Propolis supaya ia lebih kuat. Terbuat dari Curcuma domestica, Curcuma xanthorrhiza, propolis, hingga madu, produk ini mampu meningkatkan kesehatan dan ketahanan tubuhnya di kondisi tak menentu.

Syifa Kids Propolis Kemasan

BELI SEKARANG

Cari Apa?