Akhir-akhir ini, udara di beberapa daerah di Indonesia sedang kurang bersahabat akibat asap Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Langit terlihat berkabut, udara kurang segar, dan sayangnya, banyak anak-anak mulai terserang batuk, pilek, sampai sesak napas.
Bagi Ibu yang tinggal di Sumatera dan Kalimantan, pasti sudah sangat familier dengan permasalahan ini. Nah, sebagai wanti-wanti, asap karhutla bukanlah sekadar debu biasa. Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), asap ini adalah bisa memicu bahaya nyata bagi anak-anak kita.
Kenapa Asap Karhutla Sangat Berbahaya untuk Anak?

Menurut Kementerian Kesehatan, kasus ISPA akibat karhutla sudah tembus di atas 100 ribu kasus. Lebih miris lagi, lebih dari 26 ribu kasus itu terjadi pada anak usia balita. Di Kalimantan Barat saja, ISPA dan pneumonia melonjak hingga 20% sejak karhutla di periode 2026 ini.
Ketua Pengurus Pusat IDAI, dr. Piprim Basarah Yanuarso menegaskan bahwa masalah ini berdampak langsung pada anak. “Karhutla bukan sekadar bencana lingkungan, tetapi juga darurat kesehatan anak dan kelompok rentan,” kata dr. Piprim dalam pernyataan resminya.
Asap Kebakaran Hutan Bukan Sekadar Debu Biasa
Nah, asap kebakaran hutan membawa partikel halus bernama PM2.5. Saking kecilnya, partikel ini bisa menembus masuk ke paru-paru dan aliran darah. Menurut Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi IDAI, dr. Wahyuni Indawati, efek partikel dari kebakaran hutan jauh lebih ganas ketimbang polusi biasa.
“PM2.5 dari asap kebakaran hutan dapat hingga 10 kali lebih berbahaya bagi pernapasan anak dibanding PM2.5 dari sumber lain karena komposisi kimianya memiliki potensi oksidasi dan pro-inflamasi yang lebih tinggi,” jelas dr. Wahyuni.
Anak-anak (terutama yang berusia di bawah 5 tahun) menjadi korban paling rentan. Sistem kekebalan dan pernapasan mereka masih berkembang. Mereka menghirup udara lebih banyak ketimbang berat tubuhnya.
Terlebih, bagi anak-anak yang memang punya riwayat asma, penyakit paru, atau penyakit jantung bawaan, paparan asap ini sangat berisiko memicu perburukan kondisi mereka dengan cepat.
Cek Kualitas Udara saat Anak Akan Beraktivitas di Luar
IDAI dan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah punya panduan berdasarkan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) harian. Ibu dapat mengecek angka ISPU ini sedikitnya dua kali sehari lewat aplikasi atau info cuaca sebelum anak keluar rumah.
- ISPU 1-50 (Baik): Udara aman. Pembelajaran sekolah tatap muka/aktivitas luar berjalan normal.
- ISPU 51-100 (Sedang): Sekolah tatap muka masih berjalan, tapi aktivitas di luar ruangan (seperti olahraga atau upacara) perlu pembatasan atau pindah ke dalam kelas.
- ISPU 101-200 (Tidak Sehat): Pembelajaran tatap muka secara terbatas/ketat. Anak-anak dan kelompok rentan diarahkan untuk Belajar dari Rumah (BDR).
- ISPU 201-300 (Sangat Tidak Sehat): Seluruh peserta didik wajib mengikuti Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).
- ISPU >300 (Berbahaya): Semua kegiatan sekolah berlangsung secara jarak jauh alias full daring.
“Kesehatan anak adalah prioritas utama. Jangan ragu untuk segera membawa anak ke fasilitas kesehatan terdekat jika muncul gejala sesak napas, batuk berkepanjangan, atau penurunan kesadaran. Pencegahan dan deteksi dini adalah kunci,” tegas dr. Piprim.
Ibu juga bisa mendukung daya tahan tubuh dan imun anak dengan memberikannya Syifa Kids Propolis supaya ia lebih kuat. Terbuat dari Curcuma domestica, Curcuma xanthorrhiza, propolis, hingga madu, produk ini mampu meningkatkan kesehatan dan ketahanan tubuhnya di kondisi tak menentu.
