Kasus Anemia pada Anak Masih Tinggi, Kenali Penyebabnya!

Kasus Anemia pada Anak Masih Tinggi, Kenali Penyebabnya!

Bu, pernah mendapati sebagian anak sering terlihat lesu, tidak bersemangat, atau gampang lelah padahal tidak banyak beraktivitas? Kondisi ini bukan berarti mereka malas, ya. Bisa jadi, anak tersebut sedang mengalami gejala anemia.

Nah, bicara soal tumbuh kembang, kita mungkin sering kali hanya berfokus pada kenaikan berat dan tinggi badan anak. Namun, ada satu masalah kesehatan yang sering luput dari perhatian, yaitu anemia atau kekurangan sel darah merah.

Faktanya, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mencatat bahwa kasus anemia pada anak dan remaja di Indonesia masih sangat tinggi. Lantas, apa sebenarnya yang membuat si kecil bisa terkena anemia dan bagaimana cara kita sebagai orang tua mencegahnya?

Alasan Kenapa Anak Usia Balita dan Remaja Rentan Anemia

Sel Darah Merah

Menurut dr. Murti Andriastuti, Sp.A(K) dari Unit Kerja Koordinasi Hematologi Onkologi IDAI, penyebab terbesar tingginya kasus anemia adalah kekurangan zat besi. Uniknya, kebutuhan zat besi ini justru paling besar saat usia bayi dan remaja.

Karena di dua masa ini anak mengalami percepatan pertumbuhan (growth spurt) yang begitu pesat. Tubuh mereka bekerja ekstra keras untuk tumbuh, sehingga asupan berupa zat besi yang mereka butuhkan pun menjadi jauh lebih besar.

Kekurangan zat besi membuat produksi sel darah merah terhambat. Padahal, sel darah merah bertugas mengantar oksigen dan nutrisi ke seluruh tubuh dan otak anak. Saat hal itu tersendat, tubuh anak jadi kekurangan energi dan sulit berkonsentrasi.

Kasus Anemia Masih Tinggi

Data IDAI dari wilayah Jakarta dan Bekasi menunjukkan bahwa anemia sudah bisa mengintai bayi sejak usia 4 bulan dengan angka kejadian mencapai 20-30 persen. Bahkan, memasuki usia 9-12 bulan, angkanya semakin melonjak naik hingga 40 persen!

Masalah ini juga tidak berhenti di masa balita. Pada anak usia sekolah (6-12 tahun), kasus anemia masih ditemukan di angka sekitar 14 persen, dan terus berlanjut hingga mereka remaja. Data ini menjadi semacam pengingat bahwa kekurangan zat besi adalah masalah yang serius bagi anak-anak.

Kenali Gejala Anemia, Jangan Abaikan Tanda 3L

Ciri-Ciri Anak Mengalami Anemia

Anak anemia biasanya mengalami 3L (Lelah, Lemah, dan Letih). “Kalau misalnya Hb-nya turun, tentu akan berdampak juga pada yang mengidap anemia. Jadi akan terlihat kalau misalnya kita dulu ada lelah, lemah, letih,” ujar dr. Murti.

Anak yang hemoglobinnya (Hb) turun biasanya terlihat lebih pucat, mudah lelah saat bermain, sering mengantuk, hingga sulit berkonsentrasi saat belajar. Kalau si kecil menunjukkan gejala-gejala ini, tak ada salahnya untuk segera berkonsultasi ke dokter anak agar bisa dilakukan pengecekan lebih lanjut.

Perbanyak Asupan Kaya Protein Hewani untuk Cegah Anemia

Untungnya, mencegah anemia akibat defisiensi besi itu sangat bisa kita lakukan dari pemilihan menu makan di rumah. dr. Murti sangat menekankan pentingnya peran protein hewani sebagai sumber zat besi terbaik.

Nah, langkah pencegahan yang paling krusial dimulai tepat ketika anak berusia 6 bulan, alias saat masa MPASI dimulai. Ibu wajib memastikan menu harian mengandung sumber protein hewani berkualitas seperti hati, daging merah, hingga telur ayam.

“Ketika orang tua sejak awal, tepatnya saat bayi mulai mendapat MPASI, rutin memberikan protein hewani yang tinggi zat besi, hal ini akan sangat membantu mencegah defisiensi,” jelas dr. Murti.

Mengingat beberapa opsi harga bahan-bahan ini masih cukup terjangkau dan mudah kita dapat di pasar, memastikan kecukupan gizi si anak tentu bisa menjadi investasi jangka panjang untuk kesehatan dan kecerdasannya.

Untuk mendukung nafsu makan, gizi, dan pertumbuhannya, orang tua bisa memberikan Syifa Kids Nafsu Makan. Terbuat dari bahan Curcuma xanthorrhiza, Channa striata, Curcuma domestica, Curcuma aeruginosa, propolis, dan madu, berkhasiat memicu nafsu makan, mendukung imunitas, dan gizi pertumbuhan.

Syifa Kids Nafsu Makan Kemasan

BELI SEKARANG

Cari Apa?