Ibu punya anak yang tidak mau makan, tetapi lahap saat ditawari susu? Nah, situasi seperti ini pasti membuat kita galau. Di satu sisi, kita khawatir anak kekurangan gizi. Di sisi lain, kita berpikir daripada perutnya kosong, mending minum susu saja. Benar bukan?
Kebiasaan mengganti makanan dengan susu ini memang terlihat jadi jalan pintas yang menyelamatkan. Sayangnya, terlalu sering minum susu justru bisa membuat anak makin malas makan. Bahkan, kalau kita biarkan terus-menerus, si kecil bisa berisiko kekurangan zat besi.
Kenapa Anak Lebih Pilih Susu Ketimbang Makan?

Alasannya sebenarnya simpel. Susu itu rasanya enak, manis, gurih, dan pastinya tak butuh effort untuk bisa masuk perut. Di saat anak sedang capek, mengantuk, atau tumbuh gigi, pasti menyedot susu terasa jauh lebih nyaman ketimbang harus mengunyah nasi atau sayur.
Selain itu, susu punya kalori dan lemak yang cukup tinggi. Kalau si kecil sudah menghabiskan sebotol penuh susu 1-2 jam sebelum waktu makan, perut mungilnya sudah keburu penuh. Saat jam makan siang tiba, ia sudah kenyang dan ujung-ujungnya menolak makanan utamanya.
Kenyang Susu Bikin Anak Tidak Mau Makan Makanan Berat

Susu memang menjadi satu sumber kalsium yang baik. Namun, susu tak bisa menggantikan semua zat gizi dari makanan padat, Bu. Kalau konsumsi susu si kecil terlalu mendominasi, ada beberapa hal yang harus kita waspadai!
Rasa lapar adalah pemicu yang bisa membuat anak ingin mencoba makanan baru. Kalau si anak cuma minum susu, dia jadi kehilangan momen berharga untuk mengenal tekstur kasar, renyah, atau rasa asam dan gurih dari makanan padat.
Jika jarang makan berat, anak juga berisiko kekurangan zat besi. Bahkan, American Academy of Pediatrics mewanti-wanti pentingnya mengatur porsi susu supaya anak tak terkena anemia defisiensi besi. Anak yang kekurangan zat besi berisiko gampang capek, rewel, dan pertumbuhannya kurang optimal.
Karena anak butuh seng, vitamin C, serat, dan lemak baik yang didapat dari daging, sayur, buah, dan kacang-kacangan. Kalau menunya dominan susu, asupan nutrisi lain berisiko tidak terpenuhi. Maka dari itu, konsumsi asupan makanannya harus seimbang!
Cara Mengatur Porsi dan Jadwal Minum Susu Anak
Menurut rekomendasi American Academy of Pediatrics pada tahun 2026, untuk anak di atas usia 1 tahun, batas maksimal minum susu sapi (atau alternatifnya) adalah sekitar 710 mililiter (sekitar 24 ons) per hari. Jumlah ini setara tiga gelas belimbing ukuran standar.
Ingat ya, Bu, ini batas maksimalnya, bukan target yang wajib dihabiskan. Kalau anak minumnya kurang dari itu dan makannya pintar, itu malah lebih bagus. Dan khusus untuk bayi di bawah 12 bulan, susu sapi atau susu kambing biasa tak boleh kita jadikan pengganti ASI atau sufor.
Tips Minum Susu Anak
- Buat jadwal makan utama dan snack yang teratur. Kuncinya, stop berikan susu minimal 2 jam sebelum jam makan utama. Biarkan perutnya benar-benar kosong supaya sinyal laparnya muncul.
- Sajikan makanan yang kaya zat besi seperti ati ayam, daging sapi cincang, atau ikan. Supaya menarik, Bunda bisa olah jadi perkedel atau bola-bola daging.
- Seperti anjuran World Health Organization (WHO), jangan pernah memaksa anak menghabiskan makanannya. Kalau anak sudah merasa kenyang (memalingkan muka atau menutup mulut), stop. Memaksa malah bikin anak trauma makan.
- Coba catat, dalam sehari si kecil habis berapa botol/gelas? Kalau sudah melebihi 700 ml, coba kurangi takarannya pelan-pelan. Misalnya, yang tadinya 200 ml per minum, kurangi jadi 150 ml dulu.
Kesimpulannya, susu memang nutrisi yang baik, tetapi bukan pengganti makanan utama. Maka dari itu, mari semangat ciptakan suasana makan yang menyenangkan untuk anak. Perjalanan mengawal tumbuh kembang anak memang banyak ujiannya, Bu!
Untuk mendukung nafsu makan, gizi, dan pertumbuhannya, orang tua bisa memberikan Syifa Kids Nafsu Makan. Terbuat dari bahan Curcuma xanthorrhiza, Channa striata, Curcuma domestica, Curcuma aeruginosa, propolis, dan madu, berkhasiat memicu nafsu makan, mendukung imunitas, dan gizi pertumbuhan.
