Erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi sejak 4 September lalu masih terus berlangsung. Abu vulkanik kini sudah menyebar ke area Jabodetabek, Banten, Lampung, hingga sebagian Jawa Barat. Nah, abu vulkanik ini, menurut ahli ternyata sangat bahaya untuk pernapasan anak.
Perlu Ibu ketahui, abu vulkanik sangat berbeda karakteristiknya dengan debu jalanan. Tak heran, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) sampai merilis imbauan khusus terkait masalah ini. Lantas, apa saja bahayanya dan bagaimana anjuran resminya? Mari kita simak bersama!
Kenapa Abu Vulkanik Bahaya untuk Anak?

Tak seperti debu jalanan, material yang keluar dari letusan gunung ini sebenarnya terdiri dari pecahan batuan, mineral, dan partikel kaca yang ukurannya sangat halus. Partikel ini permukaannya tajam dan kasar (abrasif). Jika terhirup anak, pernapasannya berisiko iritasi.
Bukan cuma tajam, abu vulkanik juga sering membawa gas-gas beracun yang bikin iritasi makin parah, seperti sulfur dioksida (SO₂) dan karbon monoksida (CO). Kalau masuk ke tubuh si kecil, gas ini bisa memicu peradangan hebat di paru-parunya.
Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi IDAI, dr. Wahyuni Indawati, Sp.A, Subsp. Respi (K), juga mengingatkan kita untuk tetap waspada. “Gejala yang paling umum adalah iritasi saluran napas yang menyebabkan bersin, batuk, pilek, hingga sesak napas,” jelas beliau pada Senin (7/9/2026) lalu.
Apalagi, jika si kecil punya riwayat asma, alergi, atau penyakit paru, Ibu harus lebih protektif lagi. Anak-anak pada kelompok ini sangat berisiko mengalami perburukan kondisi jika terpapar abu. Selain itu, bayi dengan riwayat lahir prematur atau anak dengan penyakit jantung bawaan juga butuh perlindungan ekstra.
13 Imbauan IDAI untuk Melindungi Anak dari Abu Vulkanik
Untuk membantu orang tua berjaga-jaga, UKK Respirologi IDAI juga telah mengeluarkan 13 rekomendasi penting yang wajib kita catat dan terapkan untuk menghadapi paparan abu vulkanik. Simak baik-baik dan pastikan kita melakukannya di rumah!
- Kalau rumah berada sangat dekat dengan lokasi letusan, langkah paling aman adalah membawa si kecil mengungsi ke tempat yang udaranya lebih bersih dan jauh dari radius bahaya.
- Cek aplikasi pemantau kualitas udara lewat HP. Kalau nilai ISPU (Indeks Standar Pencemar Udara) sudah di atas 100, lebih baik si kecil dilarang main di luar dulu. Tutup rapat semua pintu dan jendela ya, Bu.
- Sewaktu orang tua mau menyapu atau membersihkan sisa abu di teras, pastikan si kecil ada di ruangan lain supaya tidak menghirup debu yang beterbangan.
- Kalau mau membersihkan lantai atau perabotan, jangan disapu kering, gunakan lap atau kain basah agar partikel abunya menempel dan tak terbang ke udara.
- Kalau punya AC yang sistemnya menghisap udara luar, matikan dulu ya, Bu. Kalau mau menyalakan AC, pastikan pakai mode air recirculation atau closed vent.
- Meskipun mungkin agak gerah, ditahan dulu ya memakai kipas angin di dalam ruangan. Angin dari kipas malah bisa bikin debu halus yang sudah menempel di lantai kembali terbang dan terhirup si kecil.
- Kalau memang terpaksa banget harus keluar rumah, pastikan si kecil memakai masker yang ukurannya pas dengan wajahnya. Ajarkan mereka cara memakainya yang rapat dan menutup sempurna.
- Jangan lupa pakaikan kacamata pelindung atau kacamata jalan yang ukurannya pas untuk anak agar matanya tidak kemasukan debu tajam.
- Pakaikan celana panjang, baju lengan panjang, dan topi untuk menutupi kulit sensitif si kecil dari paparan abu langsung. Begitu sampai rumah, langsung mandi dan ganti baju!
- Buat Ibu yang anaknya punya asma atau alergi, pastikan stok obat-obatan (inhaler atau obat minum) tersedia di rumah dan gampang dijangkau.
- Karena bahaya abu vulkanik udara luar sudah kotor, jangan tambah polusi lagi di dalam rumah. Jauhkan anak dari asap rokok (larang siapa pun merokok di dalam rumah) dan kurangi asap dari dapur saat memasak.
- Pastikan anak terus minum air putih yang cukup. Cairan ini penting untuk mencegah dehidrasi dan menjaga kelembapan tenggorokannya.
- Jangan tunda ke dokter kalau Ibu melihat si kecil mulai bernapas cepat, atau dadanya terlihat tertarik ke dalam saat bernapas.
Intinya, jangan anggap sepele keluhan anak sekecil apa pun setelah terpapar abu vulkanik. Mencegah dari awal jauh lebih baik daripada mengobati. Tetap tenang, siaga, dan jaga kesehatan keluarga di rumah!
Ibu juga bisa mendukung daya tahan tubuh dan imun anak dengan memberikannya Syifa Kids Propolis supaya ia lebih kuat. Terbuat dari Curcuma domestica, Curcuma xanthorrhiza, propolis, hingga madu, produk ini mampu meningkatkan kesehatan dan ketahanan tubuhnya di kondisi cuaca tak menentu.
