Diare memang gangguan pencernaan yang umum terjadi pada siapa saja, termasuk si kecil. Kalau pada orang dewasa, diare mungkin bisa cepat sembuh. Namun, diare pada anak butuh perhatian yang ekstra, apalagi jika ia mengalam diare yang kambuh berulang.
Ibu perlu tahu, apa saja penyebab diare berulang pada anak dan bagaimana cara tepat mengatasinya agar si kecil cepat pulih dan tidak rewel lagi. Umumnya, diare akan sembuh, tetapi jika terus-menerus kambuh maka ibu perlu sedikit waspada.
Pentingnya Mengenali Diare Berulang pada Anak

Diare pada anak itu tidak bisa kita anggap remeh, apalagi kalau sering terjadi. Kondisi ini bisa bikin si kecil kehilangan banyak cairan dan nutrisi penting dengan cepat. Akibatnya, risiko dehidrasi (kekurangan cairan), bahkan gangguan pertumbuhan (stunting) bisa meningkat.
Pada kasus yang jarang, bahkan komplikasi serius seperti kematian bisa meningkat kalau tidak segera ditangani. Makanya, penting banget bagi ibu untuk menyelidiki kenapa diare si kecil sering kambuh. Dengan tahu penyebabnya, ibu bisa memberikan penanganan yang lebih tepat dan mencegahnya datang lagi.
Penyebab Diare Kambuh Berulang pada Anak
Nah, meski terlihat sepele dan biasa, efek diare bagi anak-anak ternyata bukan main-main, ya? Maka dari itu, ibu perlu mengetahui apa saja yang menyebabkan diare anak sering kambuh. Karena terkadang, penyebabnya jarang kita kira sebelumnya!
1. Intoleransi Laktosa
Pernah dengar istilah intoleransi laktosa? Nah, kondisi ini terjadi ketika beberapa anak kesulitan mencerna laktosa, sejenis gula yang banyak ibu temukan dalam susu formula atau produk berbahan susu lainnya. Ini beda dengan alergi ya, tapi lebih ke ketidakmampuan tubuh mencerna laktosa.
Akibatnya, bakteri di dalam usus mengubah laktosa ini jadi gas. Ini yang bikin si kecil jadi sering kentut, poop-nya encer, dan perutnya kembung. Biasanya, kondisi ini bisa terdiagnosis setelah ibu mencoba menghentikan konsumsi produk susu dari pola makan anak.
Untungnya, beberapa anak bisa membaik seiring bertambahnya usia, dan ibu juga bisa memilih susu formula bebas atau rendah laktosa sebagai alternatif. Ciri umum intoleransi laktosa seperti nyeri perut, kembuh, sering kentut, atau mual, biasanya muncul 30 menit hingga 2 jam setelah anak meminumnya.
2. Alergi Susu Sapi

Berbeda dengan intoleransi laktosa, alergi susu sapi adalah reaksi kekebalan tubuh terhadap protein dalam susu sapi. Reaksi ini umumnya muncul saat anak pertama kali terpapar susu formula atau makanan lain yang mengandung protein susu sapi.
Ibu, gejala alergi susu sapi biasanya lebih parah daripada intoleransi laktosa. Selain diare, si kecil bisa saja mengalami reaksi kulit seperti ruam atau gatal-gatal, muntah-muntah, bahkan gejalanya mirip flu. Jika ibu curiga anak punya alergi susu sapi, segera konsultasi ke dokter untuk susu alternatif yang aman, ya!
3. Infeksi Virus dan Bakteri
Ini dia penyebab paling umum diare berulang pada anak, yaitu infeksi! Namanya Rotavirus, adalah salah satu biang kerok utama diare berat pada anak. Nah, menurut Kementerian Kesehatan, 41-58% kasus diare berulang pada anak yang dirawat inap itu karena Rotavirus.
Tapi bukan cuma virus, ya. Infeksi bakteri (seperti Escherichia coli atau Salmonella) dan parasit (misalnya Giardia) juga bisa menyebabkan diare berulang. Bibit infeksi ini biasa menular melalui tangan yang tidak bersih, lalu menyentuh mulut, atau melalui makanan yang sudah terkontaminasi.
4. Penyebab Lain, tapi Jarang
Selain tiga penyebab utama di atas, ada juga beberapa kondisi lain yang bisa memicu diare berulang pada si kecil, meski mungkin tidak seumum infeksi atau alergi. Apa saja ya penyebab lain yang perlu kita perhatikan?
- Penyakit celiac, yaitu reaksi autoimun terhadap gluten, protein yang ada di gandum, jelai, dan gandum hitam. Kalau anak dengan penyakit celiac makan makanan mengandung gluten, ususnya bisa rusak dan memicu diare kronis.
- Radang usus, seperti Crohn’s disease atau Ulcerative Colitis. Ini adalah kondisi peradangan kronis pada saluran pencernaan yang bisa menyebabkan diare berulang disertai gejala lain.
- Kadang, diare juga bisa muncul setelah si kecil minum antibiotik. Ini karena antibiotik tidak hanya membunuh bakteri jahat, tapi juga bakteri baik di usus, sehingga mengganggu keseimbangan pencernaannya.
Pertolongan Pertama di Rumah untuk Anak yang Diare
Penanganan anak yang sering mengalami diare di rumah bisa dilakukan dengan cara-cara sederhana namun sangat penting. Berikut ini beberapa langkah yang bisa ibu terapkan untuk memberi pertolongan pertama.
1. Beri Anak Cairan Oralit
Ini penting banget dan jangan sampai lupa! Saat diare, anak gampang banget dehidrasi. Untuk mencegahnya, segera berikan cairan rehidrasi seperti oralit (ORS). Ibu bisa membeli sachet-nya di apotek atau di warung-warung terdekat.
Kalau tidak ada oralit sachet, ibu bisa membuatnya sendiri memakai air matang yang diberi sedikit garam dan gula, air kelapa, atau sup bening. Namun ingat ya, jangan berikan minuman manis seperti soda atau jus, karena justru bisa memperparah diarenya.
Kalau anak muntah, tunggu sekitar 5-10 menit lalu coba beri cairan sedikit demi sedikit, misalnya satu sendok teh setiap beberapa menit sampai dia bisa menerimanya. Asupan cairan saat anak diare sangat penting untuk mencegah efek dehidrasi.
2. Asupan Makanan Bergizi

Meskipun sedang diare dan kadang nafsu makan menurun, si kecil tetap harus makan ya! Bahkan, melansir dari National Institute of Health, pemberian makanan bergizi tetap harus dilanjutkan. Khususnya untuk balita, akan sangat membantu pemulihan dan mencegah kekurangan cairan.
Pilih makanan yang mudah dicerna dan bergizi, seperti nasi, kentang, pisang, ayam tanpa lemak, atau yoghurt. Hindari makanan yang banyak minyak, pedas, atau terlalu manis. Beri makan dalam porsi kecil tapi lebih sering, sekitar 5-6 kali sehari.
3. Beri Suplemen Zink Jika Perlu
Zink sangat dianjurkan oleh World Health Organization (WHO) dan badan kesehatan internasional karena bisa mempercepat penyembuhan diare dan mencegah dari kambuh. Dosis untuk anak-anak di atas 6 bulan adalah 20 miligram per hari.
Zink ini diberikan selama 10-14 hari. Melansir dari Hello Sehat, meskipun diare si kecil sudah berhenti, jangan hentikan asupan suplemen ini hingga waktu ditentukan. Zink dapat mendukung penyerapan air di usus, makanya baik dikonsumsi saat diare.
4. Boleh Gunakan Antibiotik Tertentu
Melansir dari laman Hello Sehat, beberapa jenis probiotik tertentu, seperti Lactobacillus rhamnosus GG atau Saccharomyces boulardii, terbukti dapat membantu dan memperpendek durasi diare. Antibiotik jenis ini, biasa digunakan untuk meredakan masalah pencernaan.
Probiotik ini bisa ibu berikan dalam bentuk serbuk atau kapsul, campur ke makanan atau minuman anak. Tapi ingat, tidak semua probiotik efektif, jadi sebaiknya pilih yang sudah teruji klinis, lebih baik konsultasikan dulu ke dokter atau apoteker terkait.
5. Jangan Berikan Obat Diare Dewasa
Obat anti-diare untuk dewasa seperti Loperamide (contohnya Imodium) tidak aman untuk anak-anak dan tidak boleh anak minum tanpa pengawasan dokter. Obat anti-muntah seperti Ondansetron juga hanya boleh anak manfaatkan atas resep dokter.
Solusi alami yang aman bagi anak diare adalah Syifa Kids Diar. Terbuat dari formulasi madu, Psidium guajava, Foeniculum vulgare, Curcuma xanthorrhiza, Curcuma domestica, terbukti efektif mengurangi kontraksi usus, meningkatkan kesehatan pencernaan, melawan bakteri, hingga mematikan kuman penyebab diare.
