Brokoli ia lempar, wortel ia sembur, si kecil menangis kencang menolak apa pun yang warnanya hijau. Ibu mana yang tidak pusing menghadapi anak seperti itu? Padahal, sayur sangat penting untuk pertumbuhannya. Lantas, bagaimana cara efektif memperkenalkan sayur ke anak, ya?
Faktanya, hampir sebagian besar anak akan melewati fase-fase menolak sayuran. Dan ini, bukan berarti dia picky eater atau masakan kita tidak enak, ya? Nah, fenomena ini sebetulnya cukup umum dan bahkan memiliki penjelasan ilmiah yang masuk akal.
Anak-anak secara biologis memang terprogram untuk waspada terhadap rasa baru, terutama pahit (rasa yang umum pada sayuran). Ini adalah fitrah dan insting manusia untuk mempertahankan diri dan menghindari racun. Dalam dunia gizi, hal ini dikenal dengan istilah neofobia.
Jadi, di sini, tugas kita sebagai orang tua bukanlah untuk memaksa, melainkan mengakali dan membiasakan anak dengan rasa sayuran. Nah, dalam artikel ini, kita akan sama-sama belajar cara dan trik apa saja yang ampuh untuk memperkenalkan sayur ke anak!
Kapan Sebaiknya Anak Mulai Makan Sayur?

Jadi, kapan sebaiknya anak mulai makan sayur? Jawaban simpelnya adalah segera, agar ia terbiasa. Mengutip dari Hello Sehat, percaya atau tidak, fondasi ini bahkan bisa kita bangun sebelum anak lahir dan mencicipi makanan padat pertamanya.
Iya, rasa dari apa saja makanan yang kita konsumsi (termasuk bawang, rempah, dan sayuran) dapat ditransfer melalui cairan ketuban dan juga ASI. Bu, kalau kita rajin makan sayuran saat hamil dan menyusui, si bayi juga akan mencicipi ragam rasa itu secara halus.
Hal tersebut, akan membuat anak lebih familiar saat fase pemberian MPASI nanti. Saat MPASI (usia 6 bulan), ini adalah momen emas. Saat si kecil memulai makanan padat pertamanya di usia 6 bulan, segera perkenalkan sayuran. Jangan menunda-nunda lagi.
Cara Memperkenalkan Kebiasaan Makan Sayur ke Anak
Mengenalkan sayur memang butuh kesabaran ekstra. Rasa yang cenderung hambar atau sedikit pahit membuat anak-anak enggan mencobanya. Namun, ada beberapa strategi jitu yang bisa orang tua terapkan untuk membiasakan hal ini.
1. Jadilah Role Model
Anak kita adalah peniru yang ulung. Mereka jauh lebih memperhatikan apa yang kita lakukan daripada apa yang kita katakan. Nah, kita perlu menunjukkan antusiasme di depan anak. Makanlah sayuran dengan ekspresi nikmat. Ucapkan hal-hal positif, misal, “Wah, brokolinya enak banget!”
Usahakan untuk makan bersama di meja makan. Jika ia melihat orang tua rutin menyantap salad, tumis kangkung, atau lalapan, dia akan menganggap sayuran sebagai menu yang normal dan wajar dari makanan sehari-hari.
2. Mulai dari Sayuran Manis

Lidah anak sangat sensitif terhadap rasa pahit. Untuk perkenalan pertama, mulailah dari sayuran yang punya rasa dasar manis alami. Ini adalah jalur aman agar anak tidak trauma. Misalnya, labu kuning, ubi jalar, wortel, jagung manis, hingga buncis.
Cara memasaknya juga tidak kalah penting. Kukus atau panggang untuk mengeluarkan rasa manis alaminya. Hindari merebus terlalu lama yang bisa membuat rasa sayur jadi hambar dan nutrisinya hilang. Hindari juga rasa-rasa yang terlalu pedas, asin, yang anak tidak menyukainya.
3. Biarkan Anak Makan Sendiri
Bagi anak, makan bukan hanya soal kenyang saja, tapi juga eksplorasi dan belajar. Biarkan anak (untuk usia 7-8 bulan ke atas) memegang sendiri makanannya. Ini akan membantu mereka mengenali tekstur baru (lembek, renyah, berserat) dan mengurangi rasa takutnya.
Supaya lebih memudahkan, kita bisa memotong sayuran (yang sudah dikukus hingga lembut) seukuran jari orang dewasa agar bisa ia genggam. Contohnya stik wortel, kuntum brokoli utuh, atau stik labu siam.
4. Jangan Stop saat Anak Menolak
Si kecil menolak brokoli hari ini? Bu, ini wajar sekali. Jangan langsung menyerah dan mencoret brokoli dari daftar belanjaan. Faktanya, seorang anak mungkin perlu terpapar (melihat, menyentuh, mencium, atau ditawari) makanan baru sekitar 10 hingga 15 kali sebelum otaknya mau menerima makanan itu.
Ia akan menerima makanan tersebut saat menganggap makanannya aman, lazim, dan akhirnya mau mencicipinya. Untuk itu, coba tawarkan lagi brokoli itu dalam 3 hari kemudian, minggu depan, dan minggu depannya lagi dalam bentuk masakan yang berbeda. Sabar adalah kuncinya.
5. Kreasikan dengan Makanan Kesukaan Anak

Jika semua cara gagal, ini adalah trik lain yang cukup kreatif, yakni dengan menampurkan sayur ke dalam kreasi makanan non-sayur yang anak sukai. Dua pendekatan yang bisa kita gunakan, dan keduanya sama baiknya.
Yang pertama adalah menyembunyikannya ke dalam adonan makanan lain. Contohnya saja, parut wortel halus-halus dan selipkan ke dalam adonan bakso, nuget ayam buatan sendiri, saus pasta, atau bahkan adonan bolu dan pancake.
Yang kedua, jika anak sudah agak terbiasa dengan sayur, yakni kreasi bentuk dan rasa. Misalnya saja dengan memotongnya seperti bentuk bintang, hati, atau hewan. Selain itu, kreasikan rasa dengan metode-metode masak yang lain, supaya lebih manis, gurih, atau lezat.
6. Ajak Anak Memasak

Nah, anak akan jauh lebih tertarik mencoba sesuatu yang ia rasa ia miliki atau ia buat sendiri. Cobalah ajak ia ke pasar atau supermarket. Biarkan ia memilih, “Hari ini kita mau masak brokoli yang kayak pohon atau kembang kol yang kayak awan?”
Saat memasak, beri ia tugas mudah sesuai usianya. Misalnya, mencuci sayuran di bawah air mengalir, memetik daun bayam dari tangkainya, atau (jika sudah lebih besar) membantu mengaduk tumisan (dengan pengawasan).
Pantangan dalam Memperkenalkan Sayur ke Anak
Memperkenalkan sayur ke anak bisa jadi adalah proses yang cukup panjang. Tentu, akan ada hari-hari di mana ia menolak. Terkadang, memang niat baik kita justru bisa memperburuk situasi. Saat mengenalkan sayur, lebih baik hindari hal-hal berikut!
- Jangan memaksa dan memarahi. Kalimat perintah ini hanya akan menciptakan trauma dan efek negatif. Meja makan akan ia anggap sebagai tempat yang penuh stres, bukan tempat yang menyenangkan.
- Jangan menyogok, misalnya, “Habiskan sayurnya, nanti boleh makan es krim.” Ini secara tidak langsung mengirim pesan bahwa sayur adalah hukuman yang harus ia lewati untuk mendapatkan hadiah berupa es krim.
- Jangan menghukum, misalnya, “Kamu ngga boleh main kalau sayurnya ngga habis.” Ini juga sama buruknya dengan menyogok dan hanya akan menumbuhkan kebencian anak kepada sayuran.
- Jangan melabeli anak, hindari penyebutan jelek kepada anak, misalnya “tukang pilih-pilih makanan”, “anak susah makan”, “anak bandel” dan sebagainya, terlebih di depannya. Anak akan memercayai label itu dan menjadikannya sebagai identitas diri.
Penutup
Fokuslah pada cara memperkenalkan sayur ke anak yang menyenangkan. Menghindari tekanan berlebih dan ikhtiar yang konsisten adalah kunci sukses jangka panjang agar si anak tak hanya “mau” makan sayur, tetapi “suka” makan sayur hingga ia dewasa nanti.
Ibu juga bisa berikhtiar menjaga nafsu makan anak dengan Syifa Kids Nafsu Makan saat anak enggan menelan makanannya. Formulasi Curcuma xanthorrhiza, Curcuma domestica, Channa striata, propolis, dan madu di dalamnya, efektif untuk mendorong kemauan anak untuk makan.
