Miris melihat piring berisi nasi, lengkap dengan sayur dan telur mata sapi masih utuh. Padahal, waktu berangkat sekolah makin dekat. Ibu, pasti pusing ya menghadapi anak yang susah sarapan? Tenang, ada banyak cara ampuh untuk membujuk anak yang jarang mau sarapan!
Anak memang unik, beragam alasan bisa ia lontarkan saat malas sarapan. Entah tidak suka dengan menunya, masih mengantuk berat, atau sekadar belum mood makan. Sarapan memang penting, tetapi memaksa anak untuk makan tampaknya bukan solusi yang tepat, kan?
Kenapa Sarapan Sifatnya Wajib untuk Anak?

Sarapan adalah hal terpenting yang tak boleh terlewatkan, khususnya bagi anak-anak. Mengutip dari situs resmi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), sarapan memiliki banyak sekali manfaat, di antaranya untuk konsentrasi dan energi.
Betul, sarapan bisa meningkatkan kemampuan daya ingat dan konsentrasi anak di sekolah. Efeknya mungkin tidak instan, tapi sangat memengaruhi kinerja otaknya hari itu. Selain itu, sarapan membuat tubuh lebih berenergi.
Kalau perutnya kosong, bisa-bisa ia kelaparan, lemas, dan tidak fokus belajar. Sangat disayangkan, bukan? Maka dari itu, membiasakan sarapan setiap hari penting untuk mendukung kemampuan otak dan energinya.
Cara Jitu Membujuk Anak untuk Sarapan
Menghadapi anak dengan segala tingkah dan lakunya memang tidak mudah bagi orang tua. Di sisi lain, kita sudah mengetahui betapa pentingnya sarapan itu sendiri. Nah, berikut adalah cara-cara jitu dan sabar menghadapi anak yang tidak mau sarapan.
1. Hindari Cara Memaksa
Meski gemas rasanya ingin memaksa, tahan-tahan dulu, ya. Memaksa anak hanya akan membuatnya stres dan trauma dengan waktu makan. Melansir dari Hello Sehat, dokter spesialis anak, I Gusti Lanang Sidiartha, menjelaskan bahwa anak bisa merasa stres kalau orang tua memaksa sarapan.
“Orang tua boleh mengatur menu sarapan anak, tetapi biarkan anak mengambil makanannya sendiri,” jelas dr. Lanang. Namun, walau tidak dengan cara memaksa, tak berita orang tua langsung menyerah jika ia enggan makan, ya. Kadang, memulai memang bagian paling sulit.
Yang penting, ciptakan suasana nyaman tanpa ada paksaan. Dan satu lagi, usahakan sarapan tanpa distraksi. Matikan TV atau jauhkan gadget. Biar fokusnya hanya ke makanan dan obrolan pagi bersama orang tua.
2. Beri Contoh, Sarapan Bareng

Anak adalah peniru handal. Ia akan mengikuti kebiasaan siapa pun orang-orang di sekitarnya. Jadi, kalau si kecil malas sarapan, coba kita introspeksi, jangan-jangan orang tua juga sering skip sarapan pagi? Jangan anggap sepele, pemberian contoh ini sangat manjur bagi anak.
Menurut dokter spesialis gizi anak, Raissa E. Djuanda, M. Gizi, Sp. GK, orang tua perlu memberi contoh kebiasaan sarapan pada anak. “Kalau anaknya saja yang dipaksa, ia akan berpikir, kok, saya (anak) sendiri yang makan tapi orang tua tidak. Jadi, peran orang tua juga sangat penting,” ujar dr. Raissa.
Oleh karena itu, jadikan 10-15 menit sarapan bersama sebagai quality time keluarga. Nikmati makanan kita, dan biarkan si kecil melihat bahwa sarapan adalah kebiasaan pagi yang normal dan terasa menyenangkan.
3. Menu Makan yang Menarik
Tidak seperti orang dewasa, anak-anak sering “makan dengan mata”, kalau tampilannya membosankan, mereka jadi enggan mencoba. Ibu bisa kreasikan makanannya dengan bentuk yang menarik. Setidaknya, dengan tampilan yang ciamik, sudah bisa menarik ia untuk mencoba.
Misalnya, cetak nasi jadi bentuk bintang atau beruang, bikin telur dadar sebagai selimut, dan susun brokoli kukus sebagai pohon-pohonnya. Kadang, tampilan yang lucu dan berwarna-warni juga bisa jadi pemantik semangat makannya.
4. Ganti Menu Setiap Hari

Wajar kok anak bosan kalau menunya sama setiap hari. “Kemarin telur, sekarang telur lagi,” mungkin begitu kata hati anak. Cobalah buat rotasi menu mingguan yang simpel. Misal, kalau hari ini sumber proteinnya telur, besok ganti dengan ayam suwir, ikan, atau tempe.
Untuk anak usia 2 tahun ke atas, dr. I Gusti Lanang menyarankan setidaknya ada 3 sumber protein dalam menu sarapan anak. “Sumber protein seperti telur, ikan, dan kacang sangat bagus, kandungan makro dan mikro dalam protein hewani cenderung lengkap,” kata dr. Lanang.
Tidak perlu repot dengan menu yang sulit, yang terpenting adalah bergizi dan anak suka. Misalnya saja, roti isi selai kacang, sereal dengan susu, atau bubur instan yang diberi topping ayam suwir dan bawang goreng. Semua itu pilihan praktis, tetapi cukup enak.
5. Biarkan Anak Memilih Menu
Ini adalah trik psikologis yang sering kali berhasil. Anak-anak suka jika punya kendali atas menu makanannya. Cobalah ajak si kecil saat merencanakan menu sarapan. Tanyakan padanya, “Nak, besok pagi mau sarapan pancake atau nasi goreng? Pas belanja nanti, kita beli sereal rasa cokelat atau madu?”
Mengutip dari Senaraikel, saat mereka merasa punya andil dalam keputusan itu, mereka cenderung lebih antusias untuk memakannya. Ibu juga bisa minta bantuan anak untuk melakukan tugas sederhana, seperti mencuci buah atau mengambil mangkuk serealnya sendiri.
6. Pastikan Jam Tidur Teratur
Ini adalah poin yang sering terlewat. Kadang, anak menolak makan bukan karena tidak lapar atau bosan, tapi karena dia benar-benar masih mengantuk. Tubuh yang baru bangun tidur memang belum siap menerima makanan berat.
Pertama, pastikan jam tidur malamnya cukup agar ia tidak bangun dalam kondisi ngambek. Kedua, jangan langsung menyodorkan piring begitu matanya terbuka. Beri jeda sekitar 15-30 menit. Biarkan ia minum air putih dulu, cuci muka, meregangkan badan, baru ajak ke meja makan.
Penutup
Membujuk anak untuk sarapan memang butuh kesabaran ekstra. Ibu juga bisa berikhtiar dengan Syifa Kids Nafsu Makan saat anak enggan sarapan. Formulasi Curcuma xanthorrhiza, Curcuma domestica, Channa striata, propolis, dan madu di dalamnya, efektif untuk mendorong nafsu makan anak.
