Penyebab Sawan pada Anak, Ternyata Bukan karena Hal Mistis!

Penyebab Sawan pada Anak, Ternyata Bukan karena Hal Mistis!

Topik terkait sawan memang selalu menjadi momok yang menakutkan bagi orang tua. Gejalanya cukup dramatis; mata mendelik, tubuh kaku, hingga tak sadarkan diri. Hal ini kadang bikin orang tua bingung. Lantas, sebetulnya apa penyebab sawan pada anak?

Nah, sawan kerap dikaitkan dengan hal-hal mistis atau gangguan makhluk halus. Orang tua dulu menduga sawan terjadi karena orang tua membawa anak saat melayat, dan mitos-mitos tak berdasar lainnya. Akibatnya, tak heran, banyak muncul penanganan yang kurang tepat.

Padahal, kondisi ini murni medis dan bisa dijelaskan secara ilmiah. Mari kita luruskan mitos ini dan pelajari apa sebenarnya yang terjadi pada tubuh si kecil, mulai dari bayi hingga ia besar nanti, agar kita sebagai orang tua tidak salah kaprah lagi.

Mengenal Pengertian Sawan secara Medis

Penyebab Sawan pada Anak Biasanya Demam

Dalam dunia medis, istilah sawan sebenarnya tidak ada. Di dunia medis, kondisi ini bernama kejang. Nah, sawan atau kejang ini, melansir dari Hello Sehat, penyebabnya karena ada beberapa bagian otak yang menerima sinyal dari sel saraf secara berlebihan, sehingga sinyal otak terganggu.

Bu, bayangkan otak anak kita seperti sebuah komputer canggih yang memiliki jutaan kabel listrik (sel-sel saraf). Saat kondisi normal, listrik ini mengalir dengan teratur. Namun, saat terjadi korsleting atau lonjakan aliran listrik yang berlebihan di otak secara tiba-tiba, maka alirannya menjadi abnormal.

Hal inilah yang membuat tubuh anak bereaksi di luar kendali, misalnya kaku, gemetar, atau bahkan bengong sesaat. Jadi, ini murni masalah kelistrikan di otak, bukan karena gangguan makhluk halus, ya. Nah, lebih dari itu, penyebab spesifik sawan di berbagai usia biasanya berbeda!

Penyebab Spesifik Sawan pada Anak-Anak

Ibu, penyebab dan jenis kejang bisa berbeda tergantung usia anak. Memahami perbedaannya akan membuat orang tua lebih tenang dalam mengambil tindakan. Terdapat beberapa kondisi yang bisa memicu sawan pada anak, di antaranya sebagai berikut.

1. Sawan pada Bayi

Di usia ini, sistem saraf pusat bayi belum matang secara sempurna, sehingga ambang batas kejangnya biasanya masih rendah. Penyebab paling umum sawan pada bayi adalah demam. Lonjakan suhu tubuh yang dipicu oleh infeksi virus (seperti flu atau roseola) atau pasca-imunisasi bisa memicu kejang-kejang.

Bayi juga bisa mengalami kolik yang sering disalahartikan orang tua sebagai sawan. Kolik (bayi menangis terus-menerus tanpa sebab) tidak menyebabkan kejang secara langsung. Namun, jika bayi menangis terlalu hebat hingga menahan napas dan membiru, kondisi ini bisa memicu apa yang disebut breath-holding spell.

2. Sawan pada Balita

Nah, di usia emas ini, anak mulai aktif dan ekspresif. Risiko kejang demam justru paling tinggi terjadi di rentang usia 6 bulan hingga 5 tahun ini. Jika si kecil mengalami kejang, cobalah cek suhu tubuhnya terlebih dahulu.

Anak usia balita juga kerap mengalami breath-holding spell. Bu, pernahkah melihat anak menangis histeris (misal ketika ia marah), lalu tiba-tiba diam, menahan napas, wajahnya membiru, lalu pingsan atau kaku sebentar?

Banyak orang tua mengira ini sawan atau epilepsi. Padahal, ini adalah breath-holding spell yang sempat kita singgung tadi. Ini adalah respons tubuh karena emosi yang meluap. Meski terlihat mengerikan, kondisi ini umumnya tidak berbahaya dan akan membaik seiring bertambahnya usia.

Ibu juga bisa memberinya Syifa Kids Trupan saat ia demam. Syifa Kids Trupan adalah obat herbal dari bahan alami, seperti Curcuma xanthorrhiza, Cinnamomum burmanii, Kaemferia galanga, dan madu yang ampuh untuk menurunkan demam anak.

Syifa Kids Trupan Kemasan

BELI SEKARANG

3. Sawan di Usia Sekolah

Biasanya, kejang karena demam akan hilang dengan sendirinya setelah anak berusia di atas 5 tahun. Nah, jika orang tua mendapati anak baru pertama kali mengalami kejang di usia SD (terutama tanpa disertai gejala demam), orang tua harus lebih waspada.

Kondisi ini bisa menjadi indikasi adanya gangguan neurologis lain atau bakat epilepsi. Segera konsultasikan ke dokter saraf anak untuk pemeriksaan rekam otak (EEG). Dokter akan lebih tahu penyebab spesifik kejang yang ia alami.

Gejala Sawan, Tidak Selalu Kelojotan

Ilustrasi Anak Terkena ISPA dan Demam

Sawan tidak selalu terlihat seram dengan tubuh gemetar hebat. Gejalanya terbagi menjadi dua jenis utama berdasarkan area otak yang terdampak. Gejala sawan dapat berupa kejang sebagian (tanda-tandanya agak samar), hingga kejang seluruhnya.

1. Kejang Sebagian

  • Anak tiba-tiba ketakutan tanpa sebab.
  • Salah satu tangan atau kaki bergerak sendiri.
  • Anak tampak bengong, mengecap-ngecap mulut.
  • Tidak merespons saat dipanggil (sering dikira melamun).

2. Kejang Umum (Seluruhnya)

  • Mata mendelik ke atas.
  • Badan kaku mematung atau kelojotan.
  • Hilang kesadaran.
  • Terkadang disertai lidah tergigit atau ngompol.
  • Setelah kejang selesai, anak biasanya kelelahan.

Pertolongan Pertama saat Anak Terkena Sawan

Demam Sering Memburuk di Malam Hari

Ini adalah bagian terpenting. Jika si kecil mengalami sawan, kuncinya hanya satu, yakni jangan panik. Ada beberapa catatan mengenai hal yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan saat anak terkena sawan.

1. Yang Boleh Dilakukan

  • Pindahkan anak ke tempat datar dan aman (lantai beralas karpet/kasur). Jauhkan benda tajam atau keras (seperti mainan atau ujung meja).
  • Miringkan posisi badan anak ke salah satu sisi. Ini penting agar jika anak muntah atau berliur, cairannya keluar dan tidak masuk ke saluran napas (tersedak).
  • Buka kancing kerah atau celana yang ketat agar napasnya lega.
  • Hitung dan catat waktu. Sebagian besar kejang berhenti sendiri kurang dari 2-3 menit.

2. Yang Tak Boleh Dilakukan

  • Jangan memasukkan sendok/jari ke mulut. Memasukkan benda keras justru bisa mematahkan gigi, melukai gusi, atau menyumbat jalan napas.
  • Saat sadar maupun tidak sadar, jangan berikan cairan apa pun karena bisa masuk ke paru-paru.
  • Jangan mendekap atau menahan tangan/kaki anak yang sedang kejang secara paksa. Biarkan saja hingga berhenti.

Cari Apa?