Bu, pernah melihat anak tetangga atau anak teman di sosial media yang jago melukis, berhitung, atau yang lainnya? Lantas, dalam hati kita bertanya-tanya, kira-kira apa bakat anak kita, bagaimana cara mengetahui dan mendukung bakat anak, ya?
Nah, hampir semua orang tua pasti ingin menggali, mengasah, dan melihat potensi si kecil berkembang optimal. Tapi, tantangan terbesarnya adalah; di mana garis batas antara mendukung dan memaksa? Karena saat ia kecil, bakat dan minatnya tentu masih belum jelas dan abu-abu.
Jangan sampai niat baik kita malah bikin si kecil stres atau merasa dieksploitasi. Nah, agar orang tua tak bingung lagi, kita bahas tuntas cara mendeteksi dan mendukung bakat anak dengan cara yang asyik dan santai, tentunya tanpa ada unsur memaksa.
Di Umur Berapa Bakat Anak Mulai Terlihat?

Sebenarnya, bakat itu sifatnya misterius tapi nyata. Ada anak yang jago akademik, ada yang calon pemimpin masa depan, ada yang seniman, ada juga jagoan olahraga. Bahkan, banyak juga anak yang punya multiple talents alias bakatnya borongan!
Lalu, kapan waktu yang pas buat kita mengintip bakat mereka? Jawabannya ialah, tidak ada patokan waktu yang pasti. Namun, biasanya, sinyal minat itu akan mulai muncul di usia golden age (yakni balita 2-5 tahun). Di masa ini, anak adalah peniru yang ulung dan pengeksplor yang hebat.
Hanya saja, di usia balita, anak itu moody-an alias gampang bosan. Misalnya, minggu ini dia semangat banget melukis, tetapi dua hari kemudian dia malah asyik main bola di halaman dan tidak mau menyentuh alat lukisnya lagi.
Apakah artinya dia tidak berbakat melukis? Belum tentu juga. Itu tandanya dia sedang bereksplorasi. Jadi, sebagai orang tua, kita jangan buru-buru menyimpulkan. Namun, misal dia konsisten melukis beberapa minggu, nah, itu bisa jadi lampu hijau untuk orang tua menelusuri lebih lanjut.
Bagaimana Cara Mengetahui Bakat Anak?

Hampir kebanyakan orang tua tidak sadar kalau si kecil punya bakat, hanya karena bentuknya yang unik. Kuncinya cuma satu, yakni observasi di waktu luang. Cobalah perhatikan apa yang ia lakukan saat ia senggang atau bebas memilih mainannya sendiri.
Mengutip dari Novak Djokovic Foundation, anak berbakat biasanya punya daya ingat kuat dan fokus tinggi pada hal yang dia sukai. Misalnya, jika ia suka mencoret tembok, mungkin bakatnya seni. Anak cerewet/suka ngatur, mungkin bakatnya leadership. Anak suka bongkar mainan, mungkin bakat jadi teknisi.
Nah, ada ciri-ciri yang bisa kita pakai untuk mengetahui bakat anak. Kalau si kecil menunjukkan tanda-tanda di bawah ini pada satu bidang tertentu, kita boleh memulai pasang radar. Apa saja ciri-ciri untuk mengetahui bakat anak?
- Ia selalu ingin tahu seluk-beluk hal tersebut.
- Hafal detail kecil yang orang dewasa saja lupa.
- Suka memperhatikan sesuatu dengan intens.
- Punya cara unik memecahkan masalah sederhana.
- Sekali diajari langsung paham (di bidang itu saja).
- Ia begitu kritis, banyak bertanya, dan penasaran.
- Dia terlihat sangat bahagia saat melakukannya.
Cara Mendukung Bakat Anak Tanpa Memaksa
Bu, mendukung bakat itu ada seninya tersendiri. Tujuannya adalah memfasilitasi, bukan menyetir. Ingat, meskipun mungkin orang tua dulunya seorang pelukis hebat dan anak kita sekarang kebetulan tertarik dengan melukis, cara belajarnya pasti beda. Lalu, bagaimana cara yang bisa diterapkan?
1. Peka dengan Ketertarikan Anak

Anak-anak itu jujur dan itu bisa kita lihat dari respons mereka. Kalau tidak suka, mereka bakal menolak atau bermalas-malasan. Sebaliknya, kalau mereka suka, mereka bakal sangat antusias. Lantas, bagaimana kita tahu apa ketertarikan anak?
Ibu bisa cek, mungkin history tontonan YouTube Kids-nya (apakah tentang dinosaurus, masak-masakan, atau planet?). Coba dengarkan celotehannya, apa yang paling sering dia tanyakan ke orang tua? Nah, tapi ingat, bakat itu luas, jangan cuma terpaku pada menyanyi atau menggambar.
Anak yang jago debat dan tidak mau kalah saat adu argumen, siapa yang tahu, mungkin ia calon pengacara andal? Jika anak sudah sekolah, jangan ragu ngobrol dengan gurunya untuk dapat insight tambahan.
2. Beri Ruang Eksplorasi untuk Anak
Rumah rapi itu idaman, tapi rumah yang memberi ruang eksplorasi itu kebutuhan anak. Izinkan mereka melakukan apa yang disukai, selama positif. Suka masak? Ajak ke dapur (meski jadi kotor tepung). Suka gambar? Sediakan kertas bekas yang banyak.
Diskusi itu juga penting. Coba tanya ke mereka, “Adik sukanya main apa sih sekarang?” Jawaban mereka kadang bikin kaget dan membantu kita memahami kebutuhan mereka. Tentu, di usia anak-anak, keinginan anak untuk mengeksplorasi berbagai hal sedang tinggi.
3. Perkaya Pengalamannya

Setelah tahu minatnya apa, saatnya kita jadi fasilitator. Memfasilitasi belajar anak di sini tidak melulu harus les, ya. Misal, anak suka dinosaurus? Ajak wisata ke museum geologi. Anak suka alam/tanaman? Ajak ia piknik ke kebun raya, kebun herbal, atau taman bunga, biarkan ia pegang daun dan tanah.
Anak suka olahraga? Nah, ini baru boleh pertimbangkan trial class gymnastic atau ajak ke taman bermain outdoor untuk menyalurkan energinya. Pengalaman langsung (hands-on) jauh lebih berkesan daripada sekadar baca buku atau nonton video.
4. Beri Jeda, Jangan Memaksa
Ini poin yang sering dilupakan orang tua yang terlalu ambisius. Mengasah bakat anak itu bagus, tapi kalau digenjot terus, anak bisa burnout (kelelahan mental). Ujung-ujungnya malah berantakan dan mogok total. Berikan waktu untuk ia benar-benar menjadi anak-anak.
Biarkan dia bermain, membuka gadget, rebahan, atau kesenangan lainnya. Jeda ini penting supaya otak mereka segar kembali. Jangan sampai hobi dan bakatnya yang tadinya menyenangkan berubah jadi beban pekerjaan.
5. Turunkan Ekspektasi Orang Tua
Ini juga berat, yakni mengendalikan ego orang tua. Saat tahu anak jago berenang, kita mungkin langsung membayangkan dia jadi atlet perlombaan. Padahal? Mungkin dia cuma suka main air. Dan itu tidaklah apa-apa dan bukan masalah.
Ekspektasi yang ketinggian adalah beban berat di pundak kecil mereka. Kalau dipaksa, anak bisa tantrum, memberontak, atau malah membenci bakatnya sendiri. Orang tua perlu memahaminya. Jika ia riang gembira, lanjutkan dukung. Saat malas atau lesu, coba evaluasi, mungkin ia butuh libur, atau minatnya berubah.
Tugas kita sebagai orang tua hanyalah membuka pintu dan jendela kesempatan itu selebar-lebarnya. Biarkan si kecil yang memilih pemandangan mana yang ingin dia nikmati. Dukung bakat mereka dengan kasih sayang, tanpa paksaan, dan biarkan mereka tumbuh pada waktunya.
Selain beberapa tips di atas, orang tua juga bisa mendukung aktivitas belajar anak dengan Syifa Kids Nervita. Terbuat dari Centella asiatica, Zingiber officinale, Curcuma xanthorrhiza, dan Cinnamomum burmanii, Syifa Kids Nervita efektif untuk meningkatkan daya ingat, konsentrasi, dan kemampuan belajar anak.
