Selain praktis dan murah, telur punya gizi luar biasa untuk dukung pertumbuhan dan kecerdasan otak anak. Sayangnya, banyak orang tua masih percaya mitos kalau sering makan telur bisa bikin anak bisulan.
Mitos ini memang sudah beredar turun-temurun di kalangan masyarakat Indonesia. Akibatnya, banyak ibu di rumah jadi was-was dan akhirnya ragu menyajikan telur untuk si kecil. Namun pertanyaannya, benarkah telur itu biang kerok si bisul tersebut?
Anak Bisulan karena Bakteri, Bukan Telur!

Menurut Dokter Spesialis Gizi Klinik, dr. Igus Ulfa Yaze, Sp.GK, anggapan telur bikin bisulan itu murni mitos. Beliau menegaskan bahwa bisul sebenarnya adalah infeksi pada folikel (akar) rambut akibat bakteri. Sampai detik ini, belum ada satu pun penelitian yang membuktikan telur menyebabkan bisulan.
“Bisulan disebabkan karena adanya inflamasi di folikel rambut gara-gara Staphylococcus aureus, bukan gara-gara si telur,” jelas dr. Yaze. Bakteri Staphylococcus aureus ini sangat kecil, ia bahkan bisa menyusup lewat luka lecet atau pori-pori di kulit anak.
Begitu masuk kulit, bakteri ini bakal berkembang biak dan bikin benjolan merah bernanah yang terasa nyeri. Nah, risiko bisulan ini bisa makin tinggi andai kebersihan kulit anak kurang terjaga, imunnya lagi turun, obesitas, atau karena kulit sering tergesek pakaian ketat.
Telur Bisa Menyebabkan Gatal-Gatal Jika Anak Alergi

Meski telur bukan penyebab bisul, dr. Yaze menjelaskan ada kondisi yang sering bikin keduanya seolah-olah berkaitan. Pada beberapa anak, telur memang bisa memicu alergi. Gejala bisa macam-macam, mulai dari kulit gatal-gatal, ruam kemerahan, biduran, bibir bengkak, mual, diare, hingga sesak napas.
Namun, tentunya kondisi ini sangat berbeda dengan bisul. “Kebanyakan makan telur terus ternyata dia alergi. Jadi terjadilah urtikaria (biduran). Jadi, mereka sering kali salah sangka dan mengira makan telurlah yang menyebabkan bisulan. Sebenarnya enggak,” tambah dr. Yaze.
Dari sinilah benang merahnya. Reaksi alergi telur terkadang menimbulkan rasa gatal yang luar biasa. Kalau sudah gatal, refleks pertama anak pasti ingin terus-terusan menggaruknya. Garukan berulang-ulang menggunakan kuku ini bisa menyebabkan lecet atau luka kecil di permukaan kulit.
Nah, luka lecet inilah yang menjadi “pintu masuk” bagi berbagai bakteri, termasuk si Staphylococcus aureus tadi. Apabila bakteri tersebut berhasil menginfeksi area luka bekas garukan, barulah terbentuk bisul. Dengan kata lain, infeksi ini terjadi akibat kerusakan lapisan kulit karena garukan, bukan telur.
Telur Justru Kaya Protein dan Gizi Lainnya

Terlepas dari mitos yang menakutkan tadi, telur justru punya kandungan gizi yang luar biasa lengkap. Daripada dihindari, telur justru sangat direkomendasikan untuk menu harian anak. Terlebih, telur terbukti tidak menyebabkan anak bisulan.
Berdasarkan data gizi, dalam satu butir telur ayam bersembunyi sekitar 6-7 gram protein berkualitas tinggi, serta sekitar 5 gram lemak. Dan tak cuma itu, telur juga kaya akan nutrisi penting lainnya, seperti kolin, selenium, fosfor, hingga vitamin A, D dan B12.
Karena protein dalam telur sangat mudah diserap, proses pembentukan jaringan dan pertumbuhan otot si kecil jadi jauh lebih optimal. Bahkan menurut dr. Yaze, bagi individu yang sehat, makan telur setiap hari itu sangat aman.
“Orang sehat normal itu makan satu butir telur sehat-sehat aja, aman-aman aja. Bahkan dalam satu minggu 5 sampai 7 butir telur itu boleh,” kata dr. Yaze. Selain bagus untuk otot dan bikin kenyang lebih lama, rutin makan telur sangat membantu memenuhi kebutuhan gizi keluarga dengan harga yang bersahabat.
Penutup
Nah, jika anak memiliki riwayat alergi dan bisulan, orang tua juga bisa menyediakan Syifa Kids Lergital di rumah. Terbuat dari formulasi alami Curcuma xanthorrhiza, Andrographis paniculata, Curcuma domestica, hingga madu, ia efektif meredakan gejala-gejala alergi, menekan rasa gatal dan radang yang timbul.
