Duduk di Bantal Bisa Menyebabkan Anak Bisulan, Benarkah?

Duduk di Bantal Bisa Menyebabkan Anak Bisulan, Benarkah?

Siapa yang waktu kecil pernah kena omel karena duduk di atas bantal? Pasti banyak, ya. Larangan ini seolah sudah menjadi hukum yang tidak tertulis di banyak keluarga Indonesia. Alasannya tunggal, duduk di atas bantal diyakini bisa menyebabkan bisulan. Lantas, benarkah seperti itu?

Mitos ini sudah termasyhur turun-temurun. Nah, sebagai orang yang telah menginjak dewasa, lantas kita bertanya-tanya, apakah larangan duduk di atas bantal ini benar dan fakta secara medis? Atau jangan-jangan, ini hanya taktik orang tua kita dulu untuk kedisiplinan?

Menurut istilah medis, bisul atau furunkel adalah benjolan merah yang membengkak pada kulit, biasanya berisi nanah dan terkadang memiliki mata putih di tengahnya. Bisul umumnya terasa sakit dan terjadi karena adanya infeksi bakteri pada folikel rambut (tempat tumbuhnya rambut) dan jaringan di sekitarnya.

Dari Mana Asal Mitos Duduk di Atas Bantal?

Gambar Bantal

Bu, mitos bahwa duduk di bantal bisa menyebabkan bisul, ternyata sangat universal. Sebuah studi dalam Jurnal Ilmu Budaya mencatat bahwa larangan ini, tersebar di setidaknya 21 etnis di seluruh Nusantara. Tak heran, banyak dari kita yang tidak asing dengan larangan ini.

Coba ingat-ingat, di Jawa ada ungkapan, “Ojo lungguh ning nduwur bantal mundhak wudunen.” Di Bali pun ada, “De negak didur galenge, busul nyen.” Begitu juga di suku lain seperti Banjar, Batak, Dayak Punan, Mandailing, hingga Toraja, juga ada larangan serupa.

Larangan ini erat kaitannya dengan nilai kultural-historis masyarakat kita, yang memandang bantal bukan sekadar alas tidur. Mengutip dari Jurnal Ilmu Budaya, dalam banyak suku, mempercayai kepala adalah bagian yang terhormat (lambang pengetahuan), sementara pantat lekat dengan tempat keluarnya kotoran.

Munculnya bisul, dianggap sebagai hukuman cepat atas tindakan tidak sopan ini (karena merendahkan kehormatan kepala), agar anak-anak jera dan tetap mematuhi tata krama. Namun, dari sisi medis, apakah larangan ini masih relevan dan sesuai fakta?

Benarkah Duduk di Atas Bantal Menyebabkan Bisulan?

Duduk di Atas Bantal Menyebabkan Bisulan?

Ini dia inti dari pembahasan kita. Sejauh ini, belum ada penelitian medis yang secara langsung membuktikan bahwa posisi duduk di bantal bisa memicu bisul. Namun, jika kondisi bantal kotor, lalu kita mendudukinya, memang bisa saja menyebabkan bisulan (karena bakteri dalam bantal).

Nah, hal ini tentu tak terbatas pada bantal. Bantal, sprei, atau alas duduk apa pun, jika kotor, adalah sarang bakteri. Melansir New York Post, sarung bantal yang tidak dicuci selama seminggu bisa memiliki bakteri 17.000 kali lebih banyak ketimbang dudukan toilet!

Ketika kita duduk di bantal yang kotor, bakteri Staphylococcus aureus dari bantal bisa dengan mudah menempel, lalu masuk ke kulit melalui lecet yang tidak terlihat. Ia juga bisa menginfeksi kulit saat folikel rambut sedang tersumbat, atau saat terjadi gesekan antara kulit dan kain.

Selain bantal yang kotor, duduk terlalu lama tanpa bergerak juga bisa memicu tekanan dan gesekan pada kulit pantat, yang bisa membuka jalan bagi infeksi. Begitu juga area kulit yang lembap dan berkeringat, jika tak kunjung dibersihkan, adalah surga bagi bakteri penyebab bisul.

Jadi, Bu, kita tidak perlu lagi menakut-nakuti anak dengan cerita bisul jika mereka duduk di bantal. Fokus utama kita adalah menanamkan kesadaran akan kebersihan. Nah, duduk di atas bantal tidak otomatis menyebabkan bisulan, kecuali kebersihannya tidak terjaga.

Pertolongan Pertama untuk Mengatasi Bisul

Penanganan bisul bisa kita sesuaikan tergantung tingkat keparahan bisul anak saat ini. Jika bisul si kecil masih berukuran kecil (kurang dari 1,2 cm) dan belum bernanah, kita bisa mencoba beberapa cara ini di rumah sebagai pertolongan pertama.

  • Ambil kain bersih, celupkan ke dalam air hangat (bukan air panas), peras hingga tidak menetes, lalu tempelkan pada bisul selama 15-20 menit. Ulangi 3-4 kali per hari. Kompres hangat ini akan membantu bisul lebih cepat matang dan nanahnya keluar.
  • Yang terpenting, jangan biarkan anak memencet bisul. Memencet bisul justru bisa memperburuk infeksi dan menyebarkan bakteri ke area kulit di sekitarnya. Lebih baik biarkan bisul pecah dengan sendirinya, atau dibantu oleh dokter (jika nantinya diperlukan).
  • Selalu cuci tangan kita sebelum dan sesudah menyentuh bisul. Gunakan handuk dan pakaian yang bersih, serta pastikan si kecil tidak berbagi barang pribadinya dengan orang lain untuk menghindari penularan infeksi.
  • Untuk penanganan awal ini, kita bisa mengoleskan salep antibiotik topikal seperti mupirocin pada area yang terinfeksi. Oleskan sesuai petunjuk di kemasan. Salep ini biasanya tersedia di apotek dalam bentuk kemasan pasta.

Meskipun bisul kecil bisa kita tangani sendiri di rumah, orang tua juga harus segera membawa si kecil ke dokter jika bisul membesar, sangat nyeri, menyebar, atau gejala tidak membaik dalam waktu lama. Bisul, umumnya sembuh dalam waktu 2-3 minggu.

Jika bisul sudah matang, pengeluaran nanah tidak boleh dilakukan dengan sembarangan. Jika perlu, orang tua bisa membawa si kecil ke dokter, biasanya si dokter akan membuat sayatan kecil untuk mengeluarkan nanah dari bisul dengan aman.

Ibu juga bisa berikhtiar mengobati bisul anak dengan memberinya Syifa Kids Lergital. Terbuat dari bahan alami Curcuma xanthorrhiza, Andrographis paniculata, Curcuma domestica, hingga madu, efektif melawan bakteri, jamur, kuman, dan agen penyebab radang pada tubuh anak.

Syifa Kids Lergital Kemasan

BELI SEKARANG

Cari Apa?