Sebagai orang tua, pastinya kita ingin yang terbaik untuk anak, kan? Melihatnya tumbuh sehat, aktif, dan ceria adalah kebahagiaan terbesar. Nah, salah satu kunci utama dari tumbuh kembang optimal ini adalah nutrisi yang cukup, terutama protein. Jangan sampai anak mengalami kekurangan protein!
Protein ibaratnya bahan bakar bagi tubuh anak. Tanpa protein yang cukup, proses tumbuh kembang mereka bisa terganggu. Jadi, mari kenali lebih dalam peran penting protein dan apa saja bahayanya jika si kecil kekurangan nutrisi ini.
Peran Penting Protein untuk Tumbuh Kembang Anak

Protein adalah zat gizi yang punya peran sangat vital. Bayangkan protein sebagai batu bata yang membangun setiap bagian tubuh si kecil. Fungsinya tidak hanya sebagai pembangun, tetapi juga pemelihara dan perbaikan jaringan tubuh yang rusak.
Dari otot yang membuat mereka bisa berlari dan melompat, organ-organ vital, hingga sistem kekebalan tubuh yang melindungi dari penyakit, kesemuanya dibangun oleh protein. Itulah mengapa si kecil yang cukup protein cenderung lebih aktif bergerak, daya tahan tubuhnya kuat, dan tidak mudah sakit.
Fakta menariknya, kebutuhan protein anak-anak jauh lebih tinggi daripada orang dewasa. Menurut Dr. Sears Wellness Institute, anak yang sedang tumbuh memerlukan sekitar 1 gram protein per 0,5 kg berat badannya. Jadi, misal berat si kecil 10 kg, dia butuh sekitar 20 gram protein per hari, cukup banyak, kan?
Lantas, bagaimana cara memenuhinya? Ibu perlu memasukkan sumber protein ke dalam menu harian si kecil, bisa dari sumber hewani maupun nabati. Protein hewani, contohnya daging, ikan, telur, susu, atau keju. Sementara protein nabati, contohnya tahu, tempe, kedelai, dan aneka kacang-kacangan.
Mengenal Lebih Dekat Dampak dari Kekurangan Protein
Sayangnya, jika si kecil kekurangan protein, dampaknya bisa sangat serius dan berisiko tinggi. Kurangnya asupan protein bisa menyebabkan berbagai masalah kesehatan. Ibu, mari kita kenali beberapa di antaranya agar kita bisa lebih waspada.
1. Marasmus

Ibu, pernahkah melihat anak yang terlihat sangat kurus, hingga tulang-tulangnya menonjol dan wajahnya terlihat lebih tua? Bisa jadi, kondisi ini adalah gejala marasmus. Kondisi ini terjadi ketika anak kekurangan kalori secara keseluruhan, termasuk lemak, karbohidrat, dan protein.
Gejala utama marasmus adalah tubuh yang sangat kurus, hilangnya lemak dan otot, serta berat badan yang menurun drastis. Anak dengan marasmus akan terlihat sangat lemah, lesu, dan mudah marah. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini bisa mengganggu pertumbuhan dan memicu komplikasi serius, bahkan berakibat fatal.
2. Kwashiorkor
Berbeda dengan marasmus, tanda khas kwashiorkor justru adalah pembengkakan di bagian tubuh tertentu, utamanya pada kaki dan wajah. Perut anak juga akan terlihat buncit. Kondisi ini terjadi akibat kekurangan protein yang parah.
Selain pembengkakan, gejala lain yang mungkin muncul adalah rambut yang rapuh dan mudah rontok, kulit kemerahan yang mengelupas, serta anak yang terlihat apatis atau tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya. Kwashiorkor bisa membuat anak rentan terkena infeksi dan berisiko mengalami cacat mental atau fisik permanen.
3. Marasmic Kwashiorkor
Ini adalah gabungan dari dua kondisi sebelumnya. Anak dengan marasmic kwashiorkor, akan mengalami gejala dari kedua penyakit tersebut secara bersamaan. Mereka terlihat kurus, tapi juga mengalami pembengkakan pada bagian tubuhnya. Kondisi ini sering kali menyebabkan stunting atau gangguan pertumbuhan.
4. Hipoproteinemia
Hipoproteinemia adalah kondisi ketika kadar protein dalam darah sangat rendah. Gejala-gejalanya mungkin tidak sejelas tiga penyakit sebelumnya, tetapi kita tetap perlu waspada. Tanda-tanda yang umum muncul antara lain kelelahan, gampang sakit, pembengkakan di kaki, dan penurunan nafsu makan.
Ibu, maka dari itu, penting untuk diingat, gejala-gejala ini mirip dengan kondisi medis lain. Jadi, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter anak agar mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat jika merasa ada yang aneh dengan si kecil.
Tips Cerdas Memenuhi Kebutuhan Protein Anak Sehari-hari

Melihat bahaya kekurangan protein di atas, penting sekali untuk memastikan si kecil mendapatkan asupan protein yang cukup. Berikut adalah beberapa tips yang dapat kita terapkan di rumah untuk memenuhi kebutuhan protein anak sehari-hari.
- Sajikan telur setiap hari, karena telur adalah sumber protein yang murah dan mudah diolah. Ibu bisa membuatnya menjadi telur dadar, orak-arik, atau direbus.
- Variasikan menu ikan dan ayam, ganti-ganti menu ikan dan ayam agar si kecil tidak bosan. Buatlah menjadi nugget ayam buatan sendiri, sup ikan, atau bola-bola daging cincang.
- Manfaatkan tahu dan tempe, karena tahu dan tempe bisa diolah menjadi lauk lezat, seperti perkedel tahu atau tumis tempe.
- Sediakan camilan kaya protein. Ini solusi jika anak susah makan, berikan camilan sehat seperti keju stik, yoghurt, atau edamame rebus.
- Susu dan produk susu, pastikan si kecil mengonsumsi susu atau produk susu lainnya untuk melengkapi kebutuhan protein harian.
Dengan memberikan nutrisi yang seimbang, kita telah melakukan investasi terbaik untuk masa depan si kecil. Mari kita pastikan ia mendapatkan protein yang cukup agar tumbuh kembangnya optimal, sehat, dan selalu ceria!
Namun, jika anak bermasalah dengan nafsu makannya, kita juga bisa berikhtiar dengan Syifa Kids Nafsu Makan. Formulasi Curcuma xanthorrhiza, Curcuma domestica, Channa striata, propolis, dan madu di dalamnya, efektif untuk mendorong kemauan anak untuk makan, supaya kebutuhan proteinnya terpenuhi.
