Sedih rasanya kalau melihat si kecil sakit pas lagi semangat-semangatnya belajar puasa. Nah, salah satu keluhan yang paling sering muncul saat puasa Ramadan adalah radang tenggorokan. Bawaannya pasti cemas, khawatir puasanya batal, tapi di sisi lain kasihan melihat anak menahan sakit saat menelan.
Kondisi daya tahan tubuh memang bisa sedikit menurun saat anak berpuasa, sehingga mereka lebih rentan terkena penyakit. Tergantung pada kondisi kesehatannya, si kecil sebetulnya masih bisa melanjutkan puasanya. Namun, tentu saja, butuh perhatian ekstra dari kita sebagai orang tua.
Penyebab Radang Tenggorokan saat Puasa
![]()
Bu, sebelum masuk ke solusinya, kita perlu tahu dulu apa saja biang kerok yang bikin tenggorokan si kecil sakit. Beberapa kemungkinan penyebab radang tenggorokan saat puasa, antara lain adalah sebagai berikut.
- Kurangnya cairan selama berjam-jam puasa bikin kelembapan tenggorokan berkurang. Tenggorokan yang kering ini sangat rentan memicu iritasi dan peradangan.
- Takjil berupa gorengan, makanan pedas, atau es sirup yang terlalu dingin. Makanan dan minuman ekstrem seperti ini bisa banget mengiritasi tenggorokannya.
- Kegiatan seperti bukber atau tarawih meningkatkan interaksi dengan banyak orang. Risiko tertular virus atau bakteri dari orang lain pun jadi lebih tinggi.
- Asap rokok yang menempel di baju atau udara dari orang dewasa di sekitarnya setelah berbuka puasa bisa saja memperparah iritasi tenggorokan anak.
Tips Menjalani dan Mendampingi Anak Puasa saat Radang Tenggorokan
Nah, penyebab radang tenggorokan tadi, sering kali luput dari pencegahan kita. Kalau si kecil sudah telanjur sakit, jangan panik dulu. Coba terapkan langkah-langkah pertolongan pertama berikut ini, agar radangnya lekas mereda dan puasanya tetap lancar.
1. Ingatkan untuk Bernapas Lewat Hidung
Saat puasa, terus ingatkan si kecil untuk tidak bernapas lewat mulut karena udara luar akan membuat tenggorokannya makin kering dan perih. Bernapas melalui hidung bisa bantu menyaring, melembapkan, dan menghangatkan udara sebelum masuk tenggorokan.
Kalau hidungnya sedang mampet karena pilek, anak terpaksa bernapas lewat mulut. Pada situasi ini, hal tersebut sangat sulit dicegah dan memaksanya bernapas melalui hidung justru bikin ia tidak nyaman. Jika terjadi, yang terpenting adalah obati dulu hidungnya agar lega.
2. Pakai Masker dan Kurangi Teriak-Teriak

Banyak bicara, apalagi sampai teriak-teriakan saat main, akan membuat tenggorokan semakin kering. Udara dan debu juga lebih mudah masuk ke mulut. Jadi, bujuk si kecil untuk membatasi aktivitas ngobrolnya dulu.
Bila perlu, pakaikan masker saat dia harus keluar rumah agar terhindar dari debu dan bakteri. Masker bisa bantu saring debu dan partikel di udara, terlebih jika aktivitas dilakukan di lingkungan yang berdebu, kualitas udara jelek, atau anak sedang batuk dan pilek.
3. Jaga Kelembapan Kamarnya
Udara ruangan yang kering akan menurunkan produksi liur, sehingga peradangan bisa tambah parah. Jika rumah menggunakan AC di kamar, atur supaya suhunya tak terlalu dingin dan anginnya tak berembus langsung ke arah badan anak.
Kalau ada, nyalakan air humidifier (pelembap udara) di sudut ruangan. Udara yang lembap bisa bikin saluran napas tidak terlalu kering, lendir lebih mudah keluar saat pilek, dan tenggorokan berangsur-angsur akan terasa lebih nyaman.
4. Ajak Kumur Air Garam
Air garam telah terbukti ampuh mengurangi iritasi dan membasmi bakteri di tenggorokan. Ajak si kecil berkumur dengan larutan setengah sendok teh garam dalam segelas air hangat saat sahur, buka puasa, dan sebelum tidur.
Ajarkan dia menengadah (gargle) selama beberapa detik, lalu buang airnya. Kalau rasa asinnya terlalu kuat, kita juga bisa menambahkan satu sendok teh madu. Madu akan membuat rasa air garam menjadi lebih netral, tanpa mengurangi manfaatnya.
5. Pilih Makanan Berkuah Hangat

Supaya iritasinya tidak bertambah parah, hidangkan menu makanan yang ramah di tenggorokan dan mudah ditelan, seperti sup ayam kuah bening atau bubur halus. Hindari gorengan renyah, kerupuk, atau makanan bersantan kental untuk sementara waktu.
Selain mudah ditelan dan tidak menggesek tenggorokan, makanan berkuah hangat juga bisa membantu menjaga kelembapan, sehingga rasa perih bisa sedikit berkurang. Selain itu, pastikan juga asupan air putihnya terpenuhi dari waktu berbuka hingga imsak.
6. Terapi Uap Air Panas
Kalau anak mengeluh tenggorokannya sangat kering, coba buatkan terapi uap ala rumahan. Didihkan air, tuang ke dalam mangkuk besar. Mintalaj si kecil menunduk di atas mangkuk dan biarkan dia menghirup uap hangatnya lewat hidung.
Orang tua juga bisa menutupi kepalanya dengan handuk agar uap tidak cepat hilang. Hati-hati, selalu dampingi si kecil saat melakukan ini agar mangkuk air panas tidak tersenggol dan tumpah. Air panas yang tumpah sangat berbahaya karena bisa memicu luka bakar.
Penutup
Kalau sudah mencoba berbagai cara rumahan di atas tapi radang tenggorokan si kecil tak kunjung sembuh setelah 3 hari, atau disertai demam tinggi, sulit menelan air sama sekali, dan tubuhnya terlihat sangat lemas, segera periksakan ke dokter, ya.
Meski biasanya radang tenggorokan bisa sembuh sendiri, kita juga harus waspada jika tenggorokan kering disertai sulit bernapas, tidak bisa menelan, ruam kemerahan pada kulit, demam tinggi yang tak kunjung sembuh, ada darah pada liur/muntahan, atau anak tampak sangat lemas.
Ibu juga bisa berikhtiar dengan Syifa Kids Limandel, yakni madu herbal anak yang diformulasikan dari bahan baku alam pilihan, yaitu Curcuma xanthorrhiza, Morinda citrifolia fructus, Zingiber officinale, hingga propolis. Obat herbal ini berkhasiat mengobati radang amandel, tenggorokan kering, serak, hingga gatal.
