Menemani si kecil belajar, terkadang menjadi momen paling bikin darah tinggi. Sudah kita jelaskan berkali-kali, tetapi materi sepertinya tidak masuk-masuk ke memori mereka? Namun tunggu dulu, hal ini belum tentu menandakan ia malas atau bodoh. Bisa jadi, anak menderita gangguan belajar!
Benar sekali. Sebelum kita terbawa emosi dan melabeli anak dengan sebutan malas, apalagi bodoh, orang tua perlu tahu satu fakta penting; tidak semua anak memproses pelajaran dengan cara yang sama. Untuk itu, mari kita kenali apa itu gangguan belajar, supaya orang tua bisa memberikan support yang tepat!
Gangguan Belajar, Bukan Berarti Anak Malas atau Bodoh

Singkatnya, gangguan belajar adalah kondisi di mana otak anak memiliki cara yang unik dan berbeda dalam menerima, mengolah, serta menyimpan informasi. Ibarat komputer yang sama-sama canggih, namun setiap perangkat punya sistem kabel yang tersambung dengan cara yang berbeda-beda.
Hal ini, membuat mereka butuh waktu lebih lama atau metode berbeda untuk membaca, menulis, berhitung, atau berbicara. Anak yang mengalami kesulitan saat belajar bukan berarti tidak cerdas. Faktanya, justru banyak anak dengan gangguan belajar memiliki IQ di atas rata-rata!
Mereka biasanya sangat kreatif, punya rasa ingin tahu tinggi, dan jago dalam hal lain di luar akademik sekolah. Bu, bahkan ilmuwan Albert Einstein dan Thomas Edison pun dulunya ternyata memiliki riwayat kesulitan belajar.
Kenapa Gangguan Belajar Bisa Terjadi, Apa Penyebabnya?
Ibu tidak perlu menyalahkan si kecil atau diri sendiri. Para ahli pun, belum bisa memastikan 100% penyebab tunggalnya, namun gangguan ini umumnya berkaitan dengan perkembangan otak yang bisa terjadi sejak dalam kandungan, saat lahir, atau saat masa balita. Beberapa faktornya, antara lain seperti berikut.
- Masalah saat ibu hamil atau kekurangan oksigen saat bayi lahir.
- Faktor keturunan juga memungkinkan. Coba ingat-ingat, apakah ada anggota keluarga lain (ayah, kakek, atau paman) yang dulu juga susah belajar baca/hitung? Ini bisa menurun.
- Trauma fisik karena pernah mengalami sakit keras, seperti meningitis atau cedera kepala saat balita.
- Faktor lingkungan juga bisa jadi penyebabnya. Misalnya, trauma psikologis masa kecil, hal ini bisa memengaruhi perkembangan otak.
4 Jenis Gangguan Belajar yang Paling Umum pada Anak
Bu, supaya tidak menerka-nerka, ayo kita kenali ciri-khas dari masing-masing gangguan belajar ini. Karena ternyata, ada banyak macam dan jenis gangguan belajar yang bisa dialami oleh anak. Yang paling umum, yakni 4 jenis berikut ini!
1. Disleksia (Kesulitan Membaca & Berbahasa)
Ini adalah jenis yang paling sering kita dengar. Bagi anak disleksia, huruf-huruf itu seolah menari-nari. Mereka bisa mudah melihat hurufnya, tapi otak mereka kesulitan menghubungkan bentuk huruf dengan bunyinya. Apa ciri-ciri anak disleksia?
- Sering terbolak-balik mengenali huruf yang mirip (misalnya b dengan d, atau p dengan q).
- Lambat sekali saat belajar membaca atau mengeja.
- Sering lupa nama benda atau sulit menyusun kata-kata saat berbicara (lambat bicara).
- Sulit mengingat urutan (seperti nama hari atau huruf abjad).
2. Disgrafia (Kesulitan Menulis)

Kalau tulisan si kecil sering dibilang ceker ayam dan sangat sulit dibaca, jangan langsung dimarahi ya! Anak dengan disgrafia mengalami putusnya koordinasi antara apa yang mereka pikirkan dengan gerakan tangan saat menulis. Nah, ada tanda-tanda khas pada anak yang punya disgrafia!
- Cara memegang pensil terlihat kaku, aneh, atau terlalu kuat sampai tangannya cepat pegal.
- Tulisan sangat berantakan, ukuran huruf tidak konsisten, dan sering keluar garis.
- Sangat benci jika disuruh menulis atau menggambar.
- Tata bahasanya berantakan saat menulis, padahal kalau bicara lancar-lancar saja.
3. Diskalkulia (Kesulitan Berhitung)
Matematika sering jadi momok, tapi bagi anak diskalkulia, angka layaknya bahasa asing yang sangat membingungkan. Ini bukan sekadar tidak suka matematika, tetapi benar-benar tidak paham konsep jumlah dan hitung-hitungan. Nah, apa saja gejala khasnya?
- Sulit membedakan angka (misalnya angka 6 dan 9).
- Masih terus menggunakan jari untuk hitungan sederhana meski usianya sudah bertambah.
- Bingung membaca jam atau menghitung uang kembalian.
- Kesulitan memahami konsep “lebih banyak” atau “lebih sedikit”.
Untuk hal ini, Jangan paksakan drilling rumus! Ajak belajar lewat permainan (game), gunakan benda nyata (buah, mainan) untuk berhitung, dan biarkan ia mencoret-coret kertas sesukanya untuk menemukan jawaban.
4. Dispraksia (Gangguan Motorik)

Pernah melihat si kecil sering sekali jatuh, menabrak meja, atau terlihat ceroboh? Bisa jadi itu dispraksia. Ini adalah masalah koordinasi tubuh. Sinyal dari otak ke otot tidak tersampaikan dengan mulus. Dispraksia bisa terlihat pada kegiatan sehari-hari, misalnya?
- Susah mengancingkan baju atau mengikat tali sepatu.
- Sering menjatuhkan barang atau menabrak orang saat berjalan.
- Tidak suka main puzzle atau permainan susun balok.
- Kesulitan makan secara rapi (makanan sering tumpah).
- Sensitif terhadap cahaya terang, suara bising, atau tekstur kain tertentu.
Penutup
Ibu, jika melihat tanda-tanda di atas pada si kecil, langkah pertama adalah jangan panik. Coba catat kesulitan apa saja yang muncul, kita juga bisa berkonsultasi ke dokter atau psikolog supaya mendapat diagnosis yang mapan.
Nah, kesulitan belajar ini tentu saja bisa kita sembuhkan dengan terapi yang tepat. Tergantung jenisnya, anak mungkin butuh terapi wicara, terapi okupasi (untuk kondisi motorik), atau pendampingan khusus lainnya untuk menunjang aktivitas belajarnya.
Yang terpenting, jangan membandingkan si kecil dengan saudaranya atau anak tetangga. Ingat, setiap anak punya zona waktu mekarnya masing-masing. Tugas orang tua adalah menyiraminya dengan sabar, agar mereka tetap percaya diri.
Selain beberapa tips di atas, orang tua juga bisa mendukung aktivitas belajar anak dengan Syifa Kids Nervita. Terbuat dari Centella asiatica, Zingiber officinale, Curcuma xanthorrhiza, dan Cinnamomum burmanii, Syifa Kids Nervita efektif untuk meningkatkan daya ingat, konsentrasi, dan kemampuan belajar anak.
