Sudah jadi kebiasaan anak, kalau kita tanya mau makan apa, jawabannya hampir selalu sama. Hari ini ia mau nugget, sosis, dan telur, besoknya saat kita bertanya lagi, ternyata jawabannya masih sama. Padahal, anak yang maunya makan itu-itu saja bisa berisiko kurang nutrisi!
Pemandangan seperti ini pasti sudah sangat akrab di rumah kita, ya? Biasanya, karena orang tua khawatir si kecil mogok makan, kita akhirnya yang mengalah. Hasilnya, menu harian si kecil jadi berulang dan berkutat di lauk yang itu-itu saja.
Nah, kebiasaan “yang penting anak mau makan” seperti ini, ternyata kurang tepat. Menurut dokter spesialis gizi klinik, dr. Diana Felicia Suganda, M.Kes, Sp.GK, hal ini justru menjadi salah satu kesalahan yang paling sering ditemui dalam pola makan anak sehari-hari.
“Banyak orang tua yang membiarkan anaknya bebas memilih mau makan apa. Ujung-ujungnya, karena anaknya cuma mau nasi dan telur, ya diberilah nasi telur terus-menerus tanpa dikenalkan dengan variasi makanan lain,” ujar dr. Diana dalam sebuah talkshow edukatif, mengutip dari detikHealth.
Menolak Makanan Adalah Satu Fase Perkembangan Anak

Kadang, kita sebagai orang tua terlalu cepat menyimpulkan. Baru mencoba memberi brokoli satu kali dan anak melepehnya, kita langsung mengira si kecil tidak suka sayur. Padahal, penolakan pada makanan baru adalah fase yang sebetulnya sangat wajar dan hampir dialami semua anak.
Anak-anak sedang dalam masa eksplorasi rasa dan tekstur yang masih asing di lidah mereka. Menurut dr. Diana, mengenalkan makanan baru itu memang membutuhkan kesabaran ekstra dan pengulangan. Anak memerlukan waktu beradaptasi sebelum akhirnya mau membuka mulut untuk makanan baru tersebut.
“Kalau baru satu atau dua kali si kecil menolak dikasih daging, ya jangan langsung menyerah dan kembali ke telur lagi. Padahal kita belum coba menawarkannya lagi di kesempatan yang lain,” jelas dr. Diana.
Jika orang tua terlalu cepat menyerah, variasi makanan anak akan menjadi sangat terbatas. Efeknya dalam jangka panjang, kebutuhan zat gizi anak yang beragam, mulai dari protein hewani, serat, hingga vitamin, berisiko besar tidak terpenuhi secara optimal.
Kenalkan Variasi Makanan Sehat Berkali-kali
dr. Diana menekankan ketekunan orang tua saat mengenalkan makanan baru. Menurutnya, anak bisa saja baru mau menerima suatu jenis makanan setelah belasan hingga puluhan kali percobaan. Kalau hari ini ia menolak, itu bukan alasan untuk menghindari menu tersebut.
“Percobaan ke-20, ke-30, percaya deh, nanti anak pasti mau,” ujar dr. Diana memberikan semangat. Hal yang sama berlaku banget untuk sayuran. Mungkin warnanya yang hijau atau teksturnya yang berserat membuat anak ragu di awal. Namun, saat ia konsisten terpapar, lidahnya akan lebih familiar.
Coba Variasikan Menu dengan Cara Mencampur

Mengenalkan menu baru tak harus langsung dalam wujud aslinya, kok. Kita bisa memakai trik dengan menyelipkannya diam-diam. dr. Diana menyarankan supaya kita memulai dengan porsi yang sangat kecil dan mencampurkannya dengan makanan favorit anak.
Sebagai contoh, kalau si kecil belum terbiasa mengunyah daging utuh karena teksturnya yang alot, kita tidak perlu memaksanya makan daging empal. “Bunda bisa bikin daging cincang yang halus, lalu masukkan ke dalam masakan kesukaannya, seperti dicampur ke dalam makaroni atau dibentuk bola daging kecil,” saran dr. Diana.
Cara mencampur ini membantu anak beradaptasi dengan rasa baru tanpa merasa terintimidasi, sekaligus mengatasi kurang nutrisi karena ia hanya mau makan itu-itu saja. Proses ini memang butuh waktu dan tenaga ekstra. Namun, konsistensi orang tua hari ini adalah investasi agar anak tumbuh dengan nutrisi lengkap.
Syifa Kids Nafsu Makan, Mengatasi Anak Kurang Nutrisi karena Maunya Makan Itu-Itu Saja
Mengatasi anak yang kurang nutrisi karena maunya makan itu-itu saja memang butuh kesabaran ekstra. Tetap sabar menawarkan makanan kepadanya dengan wajah tersenyum. Pelan tapi pasti, seiring dengan lidahnya yang lebih familiar, kemauan makan anak akan meningkat.
Untuk mendukung nafsu makan, gizi, dan pertumbuhannya, orang tua bisa memberikan Syifa Kids Nafsu Makan. Terbuat dari bahan Curcuma xanthorrhiza, Channa striata, Curcuma domestica, Curcuma aeruginosa, propolis, dan madu, berkhasiat memicu nafsu makan, mendukung imunitas, dan gizi pertumbuhan.
