Orang tua mana yang tak bingung ketika melihat anak tiba-tiba menangis saat belajar? Padahal, baru saja buka buku, mata anak sudah berkaca-kaca. Belum lima menit kita menjelaskan, air matanya sudah tumpah. Ujung-ujungnya, aktivitas belajar dan mengerjakan PR si anak, malah jadi drama.
Bu, rasanya pasti campur aduk, ya? Antara bingung, kasihan, tapi jujur saja, kadang juga bikin frustrasi. Niat hati ingin anak jadi pintar dan disiplin, kok malah jadi ajang tangis-tangisan? Ibu mungkin bertanya-tanya, apa cara kita mengajar terlalu keras? Bagaimana kalau dia jadi benci sekolah?
Tenang, tarik napas dulu! Situasi ini sangat wajar dan hampir pernah dialami oleh semua orang tua. Daripada kita ikut panik atau malah terpancing emosi, ayo kita cari tahu pelan-pelan kenapa si kecil menangis dan bagaimana trik jitu mengatasinya agar momen belajar bisa kembali ceria.
Kenapa Anak Menangis saat Belajar?
Ibu, sebelum kita mencari solusi, kita harus cari tahu dulu. Anak menangis itu bukan karena mereka nakal atau cengeng, tapi itu adalah cara mereka berkomunikasi saat kata-kata yang ia lontarkan tak cukup untuk mewakili perasaan. Berikut beberapa alasan yang seringnya tak bisa ia ucapkan!
1. Anak Merasa Terbebani

Tanpa kita sadari, terkadang kita mematok standar yang terlalu tinggi. Mungkin kita melihat anak tetangga sudah lancar baca di usia dini, lalu kita panik dan menekan anak untuk bisa secepat itu. Padahal, proses, metode, dan gangguan belajar tiap anak itu berbeda-beda.
Ekspektasi orang tua untuk harus bisa cepat atau harus sempurna ini bikin anak merasa dikejar-kejar target. Akibatnya? Mereka stres dan menangis, karena takut mengecewakan orang tua jika tidak bisa menjadi seperti apa yang diharapkan.
2. Cara Mengajar yang Membingungkan
Ibu, sekali lagi ingat, setiap anak itu unik dan bisa saja, cara mereka mengolah informasi juga berbeda-beda. Mungkin, ada anak yang tipe visual (suka gambar), auditori (suka mendengar), atau kinestetik (suka bergerak). Ini bakal jadi masalah, kalau cara ajar kita tidak sesuai tipe mereka.
Kalau si kecil tipe yang harus bergerak, tapi kita paksa duduk diam menghafal teks panjang, tentu ia akan frustrasi. Bukan karena dia tidak pintar, hanya saja frekuensi kemauan dia belum ketemu. Kasus ini ibarat memaksa ikan memanjat pohon. Bukan tak bisa, tapi sangat tidak alami baginya.
3. Anak Merasa Bosan

Materi pelajaran yang itu-itu saja atau cara penyampaian yang monoton memang membosankan. Yang ada, anak akan semakin mengantuk atau tantrum. Jika materinya terasa boring dan tidak cocok dengan dunia mereka, tangisan juga jadi salah satu bentuk protesnya.
Studi dalam Policy Insights from the Behavioral and Brain Sciences menunjukkan kalau minat belajar anak itu, ketika anak melihat topiknya menarik dan bermakna. Ia akan termotivasi secara alami, sehingga anak akan fokus dan memperhatikan secara otomatis.
4. Anak Sedang Kelelahan
Coba cek, apakah si kecil habis pulang sekolah? Atau habis main lari-larian? Kurang tidur atau fisik yang lelah bikin emosi anak jadi sensitif. Otak yang lelah tidak akan bisa menyerap informasi. Bu, sangat wajar kalau dipaksa belajar saat capek, responsnya adalah air mata.
5. Anak Merasa Dipaksa
Meski mereka masih anak-anak, mereka juga butuh merasa punya kendali. Kalau kalimat yang keluar dari mulut orang tua isinya hanya pemaksaan dan pemaksaan, ia akan merasa dipojokkan. Lantas, ia akan menangis jika bingung harus merespons dengan cara apa.
Menurut Self-Determination Theory (SDT) dari Deci & Ryan, salah satu kebutuhan psikologis utama manusia (termasuk anak kecil) adalah kendali atas diri dan pilihan. Saat anak diberi sedikit ruang untuk memilih dan memutuskan, ia cenderung lebih termotivasi, kooperatif, tenang, dan bisa menerima.
Dampak Jika Anak Menangis saat Belajar Terus Dibiarkan

Bu, penting banget untuk kita segera memutus siklus belajar sambil menangis ini. Kalau kita membiarkannya berlarut-larut, dampaknya bisa jangka panjang. Sebelum dampak negatif berikut menyerang anak, ada baiknya kita segera mencari solusi!
- Terus-terusan menangis saat belajar, anak bisa trauma. Anak jadi menganggap buku dan meja belajar adalah musuh. Minat belajarnya bisa hilang total.
- Rasa percaya diri anak bisa anjlok saat ia tidak mampu memenuhi ekspektasi orang tua. Karena merasa selalu gagal memenuhi ekspektasi, ia jadi merasa bodoh dan tidak mampu. Hal ini juga bisa menurunkan motivasi belajarnya.
- Hubungan anak dan orang tua juga bisa renggang jika solusi tidak ditemukan. Nah, jangan sampai momen belajar anak malah merusak bonding. Anak bisa menjadi takut curhat atau menutup diri dari orang tuanya.
- Tekanan saat belajar juga bisa memicu anxiety (kecemasan). Melansir dari berbagai sumber psikologi anak, tekanan akademis berlebihan di usia dini dapat memicu gangguan kecemasan. Kita tentu ingin mental si kecil tetap sehat, kan?
Trik Jitu Mengatasi Anak yang Menangis saat Belajar
Nah, sekarang kita masuk ke bagian paling penting. Bagaimana caranya mengubah medan perang ini jadi taman belajar yang asyik? Berikut ini, ada beberapa trik jitu mengenai bagaimana cara mengatasi anak yang terus-terusan menangis saat belajar.
- Saat anak mulai menangis, stop dulu belajarnya. Jangan kita marahi, validasi dulu perasaan mereka sehingga anak merasa dimengerti. Saat emosinya sudah stabil, baru kita bisa tanya pelan-pelan apa masalahnya.
- Kalau cara A gagal, coba cara B. Susah menghafal angka? Gunakan lego atau permen warna-warni. Bosan embaca buku sejarah? Coba carikan video animasi seru di YouTube. Anak kinestetik? Ajak belajar sambil bermain. Intinya, buat suasana belajar jadi seru, sampai mereka lupa kalau lagi belajar.
- Terapkan sandwich method, karena istirahat saat belajar juga penting. Gunakan teknik Pomodoro versi anak, misal 15-20 menit belajar, 5 menit istirahat (makan camilan, minum, atau peregangan), kemudian baru lanjut belajar lagi.
- Alih-alih memaksakan, lebih baik orang tua memberikan pilihan. Memberi opsi simpel bikin anak merasa dihargai dan punya kendali atas kegiatannya sendiri.
- Ini yang paling penting, yakni fokus pada usaha, bukan nilai. Memberi pujian pada proses lebih bermakna dan lebih memotivasi anak untuk belajar lebih giat lagi di waktu berikutnya, ketimbang hanya fokus hasil. Apresiasi kecil ini, akan memupuk rasa percaya diri mereka.
Menghadapi anak yang menangis saat belajar memang ujian kesabaran bagi orang tua. Namun ingat, masa kecilnya tidak akan terulang. Jangan sampai memori mereka soal belajar hanya berisi bentakan orang tua dan air mata semata.
Selain beberapa tips di atas, orang tua juga bisa mendukung aktivitas belajar anak dengan Syifa Kids Nervita. Terbuat dari Centella asiatica, Zingiber officinale, Curcuma xanthorrhiza, dan Cinnamomum burmanii, Syifa Kids Nervita efektif untuk meningkatkan daya ingat, konsentrasi, dan kemampuan belajar anak.
